Rabu, 01 April 2020

JAWA DIKUASAI JEPANG



Jawa Dikuasai Jepang
Pada tanggal 1 Maret 1942 Tentara Keenambelas Jepang berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus yaitu di teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat), di Kragan (Jawa Tengah). Setelah pendaratan itu, ibukota Batavia pada tanggal 5 Maret 1942 diumumkan sebagai kota terbuka yang berarti bahwa kota itu tidak akan dipertahankan oleh pihak Belanda. Segera setelah jatuhnya kota Batavia ke tangan mereka, tentara ekspedisi Jepang langsung bergerak ke Selatan dan berhasil menduduki Buitenzorg (Bogor). Dalam rangka upaya menyerbu kota Bandung, pada tanggal 1 Maret Jepang telah mendaratkan satu detasemen yang dipimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5.000 orang di Eretan, sebelah  Barat Cirebon. Pada hari yang sama Kolonel Shoji telah berhasil menduduki Subang. Momentum itu mereka manfaatkan dengan terus menerobos ke lapangan terbang Kalijati, hanya 40 KM dari kota Bandung. Setelah pertempuran singkat tapi hebat pasukan-pasukan Jepang merebut lapangan terbang tersebut (Poesponegoro dkk, 1992 : 3). Pasukan Hindia Belanda beberapa kali ingin merebut lapangan terbang Subang (tercatat tanggal 2,3, dan 4 Maret1942) namun gagal.
Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung dari arah Utara. Mula-mula digempurnya pertahanan di Ciater, sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikan kota terebut sebagai pertahanan yang terakhir. Tetapi tempat ini pun tak berhasil dipertahankan sehingga pada tanggal 7 Maret 1942 petang hari dikuasai oleh tentara Jepang. Pada tanggal 6 Maret 1942 keluarlah perintah dari panglima KNIL, Lenan Jenderal Ter Poorten kepada panglima di Jawa Barat, Mayor Jenderal. J.J. Pesman tentang tidak diperbolehkannya mengadakan pertempuran di Bandung. Baik Jenderal. Ter Poorten maupun Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer kedua-duanya berpendapat bahwa Bandung pada saat itu telah penuh sesak dengan penduduk sipil, wanita dan anak-anak sehingga perlu dicegah pertempuran-pertempuarn di kota itu (Poesponegoro dkk, 1992 : 4).
Tak lama sesudah berhasil didudukinya posisi tentara KNIL di Lembang, maka pada tanggal 7 Maret 1942 pada petang harinya pasukan-pasukan Belanda di sekitar Bandung meminta penyerahan lokal. Kolonel Shoji menyampaikan usul penyerahan lokal dari pihak Belanda ini kepada Jenderal Imamura tetapi tuntutannya adalah penyerahan total daripada semua pasukan Serikat di Jawa (dan bagian Indonesia lainnya). Jika pihak Belanda tidak mengindahkan ultimatum Jepang, maka kota Bandung akan dibom dari udara. Jenderal Imamura pun mengajukan tuntutan lainnya agar Gubernur Jenderal Belanda turut dalam perundingan  di Kali jati yang diadakan selambat-lambatnya apda hari berikutnya. Jika tuntutan ini dilanggar, pemboman atas Bandung dari udara akan segera dilaksanakan. Akhirnya pihak Belanda memenuhi tuntutan Jepang dan keesokan harinya, baik Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer maupun Panglima Tentara Hindia Belanda serta beberapa pejabat tinggi militer dan seorang penerjemah pergi ke Kalijati. Disana mereka kemudian berhadapan dengan Letnan Jenderal Imamura yang datang dari Batavia. Hasil pertemuan pada tanggal 8 Maret 1942 antara kedua belah pihak adalah kapitulasi tanpa syarat Angkatan Perang Hindia Belanda kepada Jepang (Poesponegoro dkk, 1992 : 4-5).

Daftar Pustaka
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1992. SEJARAH NASIONAL INDONESIA VII. Jakarta : Balai Pustaka

Bersambung . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar