Kamis, 19 September 2019

RESPON INTERNASIONAL TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA


RESPON INTERNASIONAL TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Pengakuan atas kemerdekaan dari sebuah negara adalah salah satu faktor penting dari sebuah negara. Begitupun Indonesia pada sejarah awal kemerdekaan. Pengakuan negara negara anggota Liga Arab terhadap eksistensi RI tidak dapat begitu  saja dilupakan oleh bangsa dan negara Indonesia. Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 menerima suatu resolusi yang berisikan pengakuan de jure atas RI. Mengingat pada waktu itu jalur transportasi lintas negara diuasai oleh Inggris dan Belanda, kedua negara ini melalui perwakilan diplomatic dan konsulernya sangat hati-hati dalam memberikan visa bagi perjalanan diplomatic. Oleh karena itu untuk menyampaikan sikap Liga Arab tersebut penuh hambatan dan resiko. Perlulah utusan yang berani menembus blockade. Liga Arab mengutus Mohammad Abdul Mun’im, seorang konsul Jenderal Mesir di India. Mun’im adalah utusan khusus Liga Arab untuk menyampaikan pengakuan organisasi internasional regional tersebut kepada RI(172-173).
Di Kairo, Mekkah dan Baghdad telah beridiri Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Di Mesir sendiri berdiri pula satu panitia khusus yang diberi nama Panitia Pembela Indonesia yang didukung oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab (Jenderal Saleh Harb Pasya dan Abdul Rahman Azzam Passya) yang berada di Kairo (173).  
Pada bulan Oktober 1945 PPKI dari Kairo, Mekkah, dan Baghdad menyelenggarakan Konferensi Kerja di Mekkah. Konferensi ini menerima rancangan dari panitia Kairo yaitu : (1) memfokuskan perjuangan menentang campur tangan militer Inggeris di Indonesia dan Belanda di Indonesia. (2) membebaskan warga Indonesia di luar negeri dari kewarganegaraan Belanda. Apabila warga negara Indonesia di luar negeri telah dapat secara de facto membebaskan diri dari kewarganegaraan Belanda. (3) Menjadikan Kairo sebagai pusat PPKI di Timur Tengah. Salah satu hasil dari perjuangan tersebut adalah diakuinya kewarganegaraan RI oleh pemerintah-pemerintah setempat di Timur Tengah. Hal ini berarti bahwa pemerintah setempat mengakui de facto kemerdekaan RI (173-174).
Kedutaan Belanda di Mesir menuntut warga negara Indonesia menandatangani pengakuan pemerintahan Hindia Belanda dan menuntut supaya memperbaharui  paspor mereka. Hal ini ditolak oleh komunitas Indonesia di Timur Tengah dengan membakar paspor yang dikeluarkan Belanda(174).
Pemerintah Mesir sendiri menguntungkan komunitas Indonesia. mesir menganggap warga Indonesia di Mesir tidak ada lagi hubungan dengan keduataan Belanda. Jadi Mesir hanya berhubungan dengan PPKI. Sejak tanggal 23 Maret 1946 Mesir telah mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto. Hal ini diikuti oleh pemerintah Arab lainnya. PPKI di Timur Tengah dianggap sebagai Perwakilan sementara RI. Tiga puluh ton beras yang dikirim ke Arab Saudi untuk warga RI disana, yang tadinya diberikan melalui kedutaaan Belanda, dialihkan kepada PPKI di Kairo. Demikian pula dalam melakukan perjalanan, warga RI cukup membawa “Surat Keterangan” yang ditandatangai oleh Ketua Panitia setempat, termasuk mereka yang pulang ke Indonesia sebelum pengakuan de jure oleh Mesir dan negara-negara Arab lainnya(174).
Selanjutnya ketika perutusan diplomatik RI pertama yang dikirim ke Den Haag singgah di Kairo, mereka bertemu dengan menlu Luthfi Sayed dan Raja Farouk yang menyampaikan harapan harapan beliau terhadap perjuangan rakyat Indonesia. Pada ulang tahun pertama Proklamasi  Indonesia, radio Kairo ikut merayakannya dengan kata pengantar yang simpatik. Radio ini menyiarkan lagu lagu Indonesia. Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dalam bahasa Indonesia dan Arab disiarkan sebagai pembuka dan penutup acara radio tersebut. Selain itu juga disiarkan sandiwara radio dengan judul kemerdekaan Indonesia(174).
Pada tanggal 18 November 1946 diselenggarakanlah sidang menteri luar negeri Liga Arab yang membahas pengakuan terhadap RI. Sidang ini mengambil keputusan untuk mengamanatkan kepada negara-negara Arab anggotanya supaya mengakui RI sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Selanjutnya dengan surat No. 3128 tanggal 28 November 1946 Sekjen Liga Arab menyampaikan keputusan itu kepada pemerintah RI. Pada waktu yang sama keputusan ini disampaikan pula kepada kedutaan Belanda di Kairo (175).
Selanjutnya sekjen Liga Arab mengirimkan satu delegasi ke Indonesia. Namun Inggris  yang berkuasa tidak memberikan visa ke Yogyakarta. Dengan persetujuan menlu Mesir, sekjen Liga Arab menugaskan dengan sangat rahasia kepada Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay, supaya pergi ke Indonesia sebagai turis untuk menyampaikan secara langsung keputusan tersebut dan dalam satu harapan baik Raja Faruk kepada Presiden Soekarno (175).
Atas bantuan Miss Ktut Tantri, Muhammad Abdul Mun’im berhasil mencarter pesawat terbang dari Singapura yang membawa mereka menerobos blokade Belanda langsung menuju Yogyakarta. Blokade Sekutu berhasil di terobos. Radio Republik Indonesia Yogyakarta menyiarkan pada Kamis 13 Maret 1947 “telah sampai di Yogyakarta dengan pesawat khusus Tuan Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay dan Utusan Istimewa Liga Arab(175-176).
Abdul Mun’im menghadap Presiden Soekarno pada hari Sabtu, 15 Maret 1947 untuk menyapaikan pesan-pesan dari Liga Arab. Beliau menyampaikan keputusan Sidang Dewan Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 yang berisi anjuran agar negara-negara anggotanya mengakui RI sebagai negara merdeka dan berdaulat. Dengan kejadian ini, dalam sejarah diplomatik RI dapat ditemukan dua peristiwa penting. (1) Perutusan Mesir dengan menghadapi bahaya, menyampaikan pengakuan negaranya dan pengakuan Liga Arab kepada RI. (2) Untuk pertama kalinya RI menyambut kedatangan perutusan negara asing sekaligus perutusan organisasi internasional. Selanjutnya beliau mendesak agar RI mengirim delegasi ke Mesir, sekaligus menghadiri Inter Asian Conference di New Delhi. Sjahrir memutuskan untuk mengirim delegasi RI ke Mesir dan menerima undangan dari Nehru. Pengiriman perwakilan ke New Delhi memberikan manfaat yang sangat besar. Dapat diperkirakan bahwa betapa pentingnya kedudukan India kelak terhadap perjuangan RI. Konferensi New Delhi ini akan memberikan kesempatan untuk mengatur hubungan dengan negara-negara tetangga seperti Birma, Thailand, Tiongkok dll.
Haji Agus Salim pimpinan delegasi RI ikut dalam pesawat rombongan Liga Arab ke Singapura. Pada saat di Maguwo sudah hadir Mr. S. Muwalladi, kepala bagian Asia Tenggara di Deplu yang telah bersedia memberikan sertifikat pengganti paspor (certificate en lieu du passport) kepada tiap-tiap anggota delegasi RI. Untuk mempercepat pekerjaannya, masing-masing anggota diplomasi mengisi sendiri surat keterangan tersebut. Jumlah delegasi adalah 24 orang. Saat pesawat tersebut tiba di Singapura, dilapangan terbang kota itu delegasi RI disambut oleh masyarakat Indonesia dengan meriah dan antusias. Mereka melambai-lambaikan bendera- bendera kecil merah putih ketika pesawat tiba. Kemudian delegasi mencharter pesawat terbang lain untuk meneruskan ke New Delhi(177).
Setelah mengadakan persiapan di Bombay, delegasi RI meneruskan perjalanan ke Mesir, singgah dahulu di pelabuhan udara Lydda Palestina. Dari sini penerbangan dilanjutkan ke Mesir. Fasilitas sudah dipersiapkan oleh mahasiswa Indonesia karena Moh. Abdul Mun’im sudah berkoordinasi dengan mereka sebelumnya. Setiba di Mesir, delegasi RI diterima sebagai tamu Liga Arab selama empat bulan (177).
Kegiatan selama delegasi RI di Mesir adalah (1) Mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa. Haji Agus Salim menyampaikan bahwa kegiatan politik para mahasiswa di Timur Tengah telah melapangkan jalan formal perjuangan diplomatik pemerintah RI. (2) Delegasi RI mengunjungi Istana Abidin guna mencatatkan  nama mereka dalam daftar penghormatan kerajaan, sebagai penghormatan kepada Raja Farouk. Bagi perjuangan diplomatik RI, hal tersebut dilakukan sebagai penghargaan kepada raja Farouk yang anti Inggeris telah mendorong pemerintah Mesir lebih tegas mendukung RI mempertahakan kemerdekaan dan kedaulatannya. Dukungan ini dikuti oleh negara-negara Arab lainnya. Bahkan pemerintah Mesir memberikan pengakuan de facto kepada PPKI sebagai perwakilan RI sementara, menanti perwakilan RI resmi didirikan. (3) Delegasi RI mengunjugi Abdulrahman Azzam Pasya, sekjen liga arab sebagai tuan rumah. Disini Abdulrahman Azzam Pasya menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia telah berhasil menyampaikan kepentingan RI kepada negara-negara Arab. (4) Delegasi RI melakukan kunjungan ke perdana Menteri/Menteri luar  Mesir di kemenlu Mesir, Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya. Kunjungan ini menyampaikan maksud untuk hubungan diplomatik antara RI  dan negara- negara Arab. Pada tanggal 10 Juni 1947 ditandatanganilah perjanjian persahabatan hubungan diplomatik dan konsuler dan perjanjian perdagangan antara RI dan Mesir. Kemudian Haji Agus Salim melanjutkan tugasnya ke Suriah (Damaskus 6 Juli1947), Irak (Bagdad pada 16 Juli 1947) dan Lebanon(177-179).
Melalui surat No. 155/L 7 Agustus 1947 Haji Agus Salim menyampaikan kepada kerajaan Mesir keberlangsungan tugas delegasi RI untuk negara-negara Arab sebagai berikut. Mohammad Rasyidi sebagai Charge d’Affaires, M. Nazir Pamoncak sebagai Counsellor, Moh. Zein Hassan sebagai Sekretaris I, dan Mansur Abu Makarim sebagai Sekretaris II. Mereka menjadi staf kedutaan RI pada tingkat Charge d’affaires di Kairo. Ini merupakan kedutaan RI pertama dibuka diluar negeri semenjak Proklamasi. Staf ini juga merangkap sebagai Misi Diplomatik RI Tetap untuk negara-negara anggota Liga Arab (179).
Saat Arab Saudi mengakui RI pada 21 November 1947 telah disepakati pula dibukanya hubungan diplomatik antara kedua negara, namun pelaksanaanya ditangguhkan. Komunitas Indonesia disana mendesak supaya pembukaan perwakilan dipercepat. Ketika Moh. Rasyidi, wakil RI bagi negara-negara Arab datang ke Arab Saudi dengan misi haji RI pertama pada 17 Oktober 1948 telah diadakan rapat antara Moh. Rasyidi (wakil RI), Misi Haji RI, dan para pemimimpin komunitas Indonesia di sana. Atas desakan para pemimpin masyarkaat itu, telah disetujui pembukaan perwakilan RI di Jeddah dengan Ismail Banda sebagai kepala Perwakilan RI(179).
Selain Mesir India dan Australia ikut membela kepentingan Indonesia. Bagaimana reaksi dunia luar atas tindakan Belanda yang memilih jalan kekerasasn untuk menyelesaikan  pertikaiannya dengan pihak RI ? Yang tampil sebagai pembela utama RI ialah India dan Australia. India membela RI karena solidaritas Asia terutama sesudah Konferensi Inter Asia di New Delhi (Maret 1947) di mana RI ikut serta. Lagi pula hubungan RI India baik sekali antara lain karena politik beras Syahrir (antara 1946 -1947 Jawa mampu menyediakan beras 700.000 ton untuk disumbangkan kepada India yang sedang dilanda bahaya kelaparan), dan ketegasannya dalam membela semangat piagam PBB. Ia berpegang pada pasal 34 yaitu yang menyebut tentang pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia (Moedjanto, 1988 : 16).
Sedang Australia mendasarkan pembelaannya atas pasal 39 yang menyebut tentang adanya ancaman terhadap perdamaian dunia. Disamping itu Partai Buruh Australia yang sedang berkuasa memang pada dasarnya bersimpati kepada perjuangan  kemerdekaan. Berdasarkan hal- hal itu India dan Australia lalu mengajukan resolusi bersama ke DK PBB agar Belanda dan RI segera menghentikan  permusuhan dan menyerahkan perselisian mereka kepada komisi arbitrase sesuai dengan pasal 17 persetujuan Linggajati. Resolusi bersama ini diajukan ke DK PBB pada 30 Juli 1947 (Moedjanto, 1988 : 16).

Sumber
Moedjanto, G. 1988. INDONESIA ABAD KE – 20 2 DARI PERANG KEMERDEKAAN PERTAMA SAMPAI PELITA III. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Agustinus Supriyanto. Peran Konsul Jenderal Mesir di India Tahun 1947 Bagi Status Internasional Republik Indonesia   http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/737/5.AGUSTINUS.pdf?sequence=1&15Allowed=y diakses hari Selasa tanggal 16 Juli 2019 pukul 07:48 WIB

Rabu, 18 September 2019

SEJARAH MARITIM KERAJAAN MAJAPAHIT


SEJARAH MARITIM KERAJAAN MAJAPAHIT
(Sistem Pemerintahan, Sosial, Eknomi, dan Kebudayaan Serta Pengaruhnya Dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia Pada Masa Kini)
Oleh Naniek Yuliyanti, S.Pd.

Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis kerajaan-kerajaan maritim Indonesia pada masa Hindu dan Buddha dalam sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kini.
4.1 Menyajikan hasil analisis tentang kerajaan-kerajaan maritim Indonesia pada masa Hindu dan Buddha dalam sistem pemerintahan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kini dalam bentuk tulisan dan/atau media lain.

Lokasi Geografis Ibu Kota
Lokasi pusat kerajaan Majapahit ada di dekat Trowulan yang letaknya kurang lebih 10 Km di sebelah Baratdaya Mojokerto sekarang. Dugaan ini dilandaskan pada banyaknya penemuan di desa-desa di situ berupa fondasi bangunan, candi, gapura, reservoir (tempat menyimpan barang-barang cadangan ) air dan umpak-umpak rumah. Hasil penemuan barang-barang  pakai, perhiasan dan patung-patung kini masih dapat dilihat di museum arkeologi Trowulan. Kerajaan ini disebelah Utaranya terhampar dataran banjir kali Brantas sedang disebelah Selatan dan Tenggaranya sejauh kurang lebih 25 Km menjulang tinggi kompleks gunung Anjasmoro, Arjuna dan Welirang dengan ketinggian antara 2000 dan 3000 m (Daldjoeni N, 1992 : 109).
Mengenai lokasi pelabuhan Majapahit hasil penelitian diperkirakan kali Surabaya (kali Mas) semula merupakan alur pelayaran yang penting karena menghubungkan Majapahit dengan daerah luar. Adapun sungai Brantas sebagai cabang kali Brantas dapat dilayari untuk mendekati pusat kerajaan, paling tidak sampai daerah Japaran. Dari titik ini untuk sampai ke pusat kerajaan tinggal ditempuh jarak 8 – 10 Km (Daldjoeni N, 1992 : 109).

Politik
Sriwijaya yang berkembang pesat di dunia Melayu ini sejalan dengan perkembangan kekuasaan politik kerajaan-kerajaan di Jawa. Kompetisi dan konflik antara Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di Jawa menunjukkan intensitas tinggi ketika pusat kerajaan Mataram dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Raja Sendok (929-947), telah memindahkan istana dan ia diakui sebagai pendiri dinasti baru (Isyana) yang memerintah di Jawa Timur sampai 1222. Salah satu motif pemindahan ini adalah untuk menghindari konflik dengan Sriwijaya. Munculnya kekuatan politik di Jawa Timur memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian daerah di kawasan pantura Jawa bagian Timur pada khususnya dan kepulauan Indonesia pada umumnya. Berbeda dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah yang diyakini sangat bergantung pada ekonomi pertanian sawah, wilayah pesisir dan lembah-lembah sungai di Jawa Timur pada waktu itu belum berkembang sebagai daerah-daerah pertanian yang surplus yang dapat mendukung kekuatan politik kerajaan baru ini. Oleh karena itu, sejak periode awal raja-raja Jawa Timur memberi perhatian yang lebih terhadap perdagangan maritim. Hubungan perdagangan diselenggarakan baik dengan kawasan Timur kepulauan Indonesia (seperti Maluku) maupun dengan kawasan bagian Barat (seperti dengan orang-orang Sumatra dan Semenanjung Malaya yang pada waktu itu masih di bawah dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya). Persaingan dan konflik militer kemaritiman antara kekuatan Jawa dan Sriwijaya memuncak pada masa Jawa berada di bawah kerajaan Majapahit sejak akhir abad ke-13. Jika pada masa kerajaan Singasari (pendahulu Majapahit) upaya untuk melakukan ekspansi maritim ke kawasan Nusantara bertujuan untuk menjadikan seluruh Nusantara di bawah lindungan Singasari untuk  menghadapi ekspansi Mongol, maka ekspansi yang dilakukan oleh Majapahit terutama ditujukan untuk menguasai sumber-sumber ekonomi maritim di Nusantara secara umum. Jika pada masa Kertanegara, Pan-Nusantara dicapai dengan jalan diplomasi yang persuasif untuk menyadarkan adanya bahaya luar, dengan cara membina hubungan spiritual, dan lewat perkawinan politis dan magis dalam rangka untuk menciptakan front antiekspansi Mongol di Asia Tenggara, maka Pan-Nusantara jaman Majapahit dilanjutkan dengan peneguhan kekuasaan secara politik dan dalam beberapa kasus juga dengan cara-cara militer. Di dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama disebutkan sekitar 98 daerah vassal Majapahit antara lain Palembang, Jambi, Kampar, Siak, Rokan, Lamuri, Barus, Haru di Sumatra; Pahang, Kelang, Sai dan Trengganu di Semenanjung Malaya; Sampit, Kapuas, Barito, Kutai and Sedu di pulau Kalimantan; Butung, Luwuk, Banggai, Tabalong di Sulawesi; Wandan di Maluku; Seran di Irian; Sumba dan Timor di Nusatenggara.
Di samping itu juga diinformasikan mengenai negara-negara sahabat Majapahit seperti Siam, Burma, Champa, Vietnam, Cina, dan Benggala. Negara-negara sahabat ini memiliki hubungan ekonomi dengan Majapahit. Meskipun daftar kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Majapahit itu banyak yang meragukan, namun tidak ada alasan untuk meragukan bahwa tempat tempat yang disebutkan dalam daftar itu telah dihubungkan dengan jaringan maritim lewat aktivitas perdagangan. Bahkan ekspedisi Cheng Ho antara tahun 1405 dan 1433, yaitu ketika Majapahit sudah mulai melemah, mengakui bahwa perdagangan Jawa masih kuat dan bersumber dari kemampuan pelayarannya sendiri. Bahkan misi dagang ke Cina dipandangnya bertujuan untuk mengembangkan perdagangan lokal mereka sendiri. Kampanye Majapahit untuk melakukan ekspansi ke kawasan seberang dimulai sekitar tahun 1347. Politik ekspansi ini telah diletakkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Dalam sumber-sumber tradisional ia diceritakan telah mengucapkan sumpah untuk tidak makan buah palapa atau tidak akan menikmati kesenangan hingga seluruh wilayah Nusantara berada di bawah kekuasaan Majapahit. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa bagaimana persisnya wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit masih merupakan kontroversi. Namun demikian hampir tidak bisa diragukan bahwa tentunya armada laut Majapahit secara periodik melakukan kunjungan ke berbagai wilayah di Nusantara untuk memperoleh pengakuan formal atau sekedar pamer kemegahan armada kerajaan sehingga mendorong penguasa lokal untuk memberikan upeti kepada Majapahit mungkin secara sukarela. Sudah barang tentu kekuatan jaringan dan armada dagang Majapahit akan mampu memberikan sanksi kepada penguasa lain yang menunjukkan sikap bermusuhan kepada Majapahit. Dalam salah satu ulasannya mengenai perkembangan kota Malaka sejak akhir abad ke-14, R.J. Wilkinson mengatakan bahwa kota ini berkembang dari sebuah desa nelayan yang dihuni oleh suku Sakai-Laut (Orang Laut) menjadi kota perdagangan yang penting adalah sebagai akibat dari ekspansi yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit terhadap berbagai kota penting di sekitar Selat Malaka. Dia menggambarkan bahwa secara tiba-tiba Majapahit menempatkan diri sebagai bangsa penakluk di kawasan Asia Tenggara. Dengan menggunakan armadanya, Majapahit telah menyapu sisa-sisa pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang. Selain itu armada Majapahit juga melakukan penaklukan terhadap Singapura. Demikian juga ekspedisi Majapahit juga telah menaklukkan pelabuhan penting di ujung utara Sumatra yaitu Pasai dan selanjutnya Langkasuka (Ligor). Rangkaian penaklukan terhadap kota-kota pelabuhan tersebut (antara tahun 1370-1380) menurut Wilkinson telah mendorong berkembangnya kota Malaka. Perkembangan ini berkaitan dengan migrasi para pedagang dari kota-kota itu menuju ke Malaka dan selanjutnya menjadikanya sebagai kota dagang internasional yang bersifat kosmopolitan. Jadi rangkaian penaklukan Majapahit mendorong perkembangan kota Malaka yang menurut sumber-sumber lokal juga didirikan oleh keturunan orang Majapahit dari Palembang. Ada pula yang menyangsikan apakah memang betul bahwa Majapahit merupakan kerajaan maritim mengingat ibukota majapahit itu sendiri tidak terletak di tepi pantai, tetapi berada di pedalaman. Berdasarkan catatan Ma Huan yang menyertai ekpedisi Cheng Ho pada waktu Majapahit masih berdiri dapat diketahui adanya informasi bahwa Majapahit memiliki empat kota penting yaitu Tu-Pan (Tuban), Ko-erh-his (Gresik), Su-erh-pa-ya (Surabaya), dan ibukota Man-che-po-I (Majapahit). Ma Huan juga mengambarkan berbagai tempat yang merupakan pintu gerbang menuju ibukota Majapahit. Ia mengatakan bahwa dari Surabaya kapal-kapal kecil dapat berlayar sejauh 70 hingga 80 li (sekitar sepertiga mile) hingga mencapai pelabuhan Canggu sebagai tempat berlabuh. Selanjutnya perjalanan menuju ke arah barat daya selama satu setengah hari akan mencapai ibukota Majapahit. Dari keterangan Ma Huan tersebut dapat disimpulkan bahwa memang betul ibukota Majapahit berada di pedalaman namun sebagian perjalannya masih bisa ditempuh dengan menggunakan kapal kecil. Dari segi geostrategi, letak ibukota yang demikian ini justru sangat menguntungkan mengingat bahwa ibukota kerajaan yang berada di tepi pantai akan lebih rentan terhadap serangan musuh dari laut yang sangat terbuka. Hal ini juga sama dengan Cina yang meskipun ibukotanya ada di pedalaman namun tidak selalu berarti menjauhkan diri dari aktivitas kebaharian. Selain itu Majapahit juga memiliki pelabuhan-pelabuhan penting sebagai pusat kegiatan kemaritiman seperti Tuban, Canggu, Gresik, Surabaya, dan sebagainya. Pentingnya transportasi laut dan sungai bisa diterima secara akal sehat mengingat wilayah Majapahit khususnya daerah di sekitar ibukota merupakan hutan pegunungan dengan sungai-sungai besar. Di sini peranan sungai Brantas sebagai media transportasi menjadi sangat penting. Pada waktu itu kapal-kapal laut masih bisa berlabuh di pelabuhan Canggu yang merupakan pelabuhan sungai besar yang dekat dengan ibukota Majapahit. Duarte Barbosa yang pernah singgah di Jawa pada perempatan pertama abad ke-16 mengatakan bahwa di samping memiliki jung-jung untuk pelayaran samudera, orang-orang Jawa juga memiliki kapal yang ‘well-built light vessels propelled by oars’ yang biasanya digunakan untuk aktivitas perompakan. Kemampuan armada dagang Majapahit tidak dapat diragunakan lagi untuk melayari laut-laut di Nusantara tetapi juga samudera lepas dalam perdagangan internasional. Tome Pires yang datang di Jawa pada awal abad ke-16 mengatakan bahwa seratus tahun sebelum ia datang, Jawa memiliki kekuasaan yang sangat besar di mana kapal-kapalnya berlayar hingga mencapai Aden dan Majapahit memiliki hubungan dagang utama dengan kerajaan Keling (India), Benggala, dan Pasai (Dikutip dari Jurnal Ilmiah dengan judul Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia : Belajar Sejarah oleh Singgih Tri Sulistiyono. https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/33461/20140 diakses hari Kamis 30 Agustus 2018 Pukul 15.02 WIB).

Ekonomi
Kerajaan Majapahit berkembang bukan hanya dari basis ekonomi pertanian namun juga pengembangan kegiatan pelayaran dan perdagangan sebagai sebuah negara maritim. Perdagangan laut itu bukan hanya dilakukan antara satu daerah dengan daerah lain di Nusantara, tetapi juga perdagangan internasional dengan kawasan yang lebih luas. Pigeaud berpendapat bahwa barang-barang impor telah dikenal oleh masyarakat Majapahit hingga pedalaman seperti tekstil dari India dan barang-barang dari Cina seperti mata uang, barang-barang pecah belah dan batu mulia. Chao Ju-Kua memberikan kesaksian bahwa komoditas Cina yangdibeli oleh para pedagang Jawa mencakup emas, perak, sutera, pernis, dan porselin. Begitu berkembangnya daya beli para pedagang Jawa sehingga menyebabkan Kekaisaran Cina pernah melarang perdagangan dengan Jawa karena menyebabkan terjadinya penyedotan mata uang Cina ke Jawa melalui perdagangan rempah-rempah, khususnya lada Perlu diingat bahwa Tome Pires yang berkunjung di pelabuhan – pelabuhan di Jawa pada awal abad ke-16 mendengarkan dengan telinganya sendiri bahwa kebesaran Majapahit sudah beredar di kalangan banyak orang pada waktu itu (Dikutip dari Jurnal Ilmiah dengan judul Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia : Belajar Sejarah oleh Singgih Tri Sulistiyono. https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/33461/20140 diakses hari Kamis 30 Agustus 2018 Pukul 15.02 WIB).
Keberadaan sungai dan pelabuhan selain digunakan sebagai pendukung faktor ekonomi juga digunakan sebagai jalur diplomasi, politik, penyebaran agama, dan kebudayaan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap berkembangnya kota Trowulan. Dalam prasasti Canggu atau prasasti Trowulan I disebutkan bahwa terdapat 44 desa penyeberangan di tepi Sungai Brantas. Adanya desa-desa penyeberangan tersebut kemudian berkembang menjadi pelabuhan sungai yang besar seperti Canggu, Bubat, dan Terung. Persebaran desa penyeberangan di Sungai Brantas mempertegas posisi sungai tersebut sebagai sarana transportasi dan perdagangan yang  menghubungkan daerah hulu dengan daerah hilir.
Fakta menarik dari masyarakat Majapahit adalah gemar menabung. Kebiasaan ini dibuktikan dengan penemuan celengan disitus Trowulan (Darini, 2016 : 24) .


Sosial
Rakyat Majapahit kelompok masyarakatnya berdasarkan pekerjaan (profesi). Antara lain petani, pedagang dan pengrajin. Masyarakat Majapahit menghargai adanya perbedaan atau kemajemukan budaya, agama dan adat istiadat. Hal ini dibuktikan dengan banyak penduduk berasal dari Samudra Pasai, Malaka dan Cina yang tinggal di Majapahit. Ini dibuktikan dalam kita Sutasoma karangan Mpu Tantular dengan kalimat Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tapi tetap satu.  Toleransi beragama telah tercipta di jaman Majapahit, yang dapat terlihat dari keberadaan makam-makam Islam (makam Troloyo) di dekat pusat Kerajaan Majapahit (Fenomena Islam Pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit karya Muhammad Chawari hal 190 dalam E Book berjudul Majapahit Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota dikutip dari  http://repositori.kemdikbud.go.id/2054/1/Buku%20Majapahit2.pdf diakses hari minggu, 15 September 2019 pukul 07.14 WIB). Ini bukti bahwa pluralisme dan multikulturalisme sesungguhnya sudah merupakan suatu keniscayaan bagi bangsa ini. Ia sudah ada sejak dulu, jauh sebelum negeri ini menjadi sebuah bangsa berdaulat. Keberadaan makam-makam Islam di tengah-tengah pemerintahan Majapahit yang bercorak Hindu Buddha adalah bukti sejarah bahwa sejak dulu nenek moyang bangsa Indoensia menghargai perbedaan. Bahwa Toleransi antar umat beragama sudah mendapat tempat dalam tatanan kehiduapan sehari-hari (Melihat Trowulan Membaca Peradaban dalam Kompas, Rabu 20 September 2006 Hal. 14).
Menurut Ma Huan ada tiga golongan warga di Majapahit yaitu Muslim yang datang sebagai pedagang dari Barat, yang kedua orang Cina dinasti Tang yang juga Muslim dan warga pribumi yang beragama Hindu Budha (Metropolitan Yang Hilang oleh Mahandis Y. Tamrin dalam majalah National Geographic Indonesia September 2012 hal. 26). Ma Huan juga melukiskan bahwa orang-orang Majapahit menggemari barang-barang Cina seperti keramik biru, kain sutra berhias benang emas, kesturi, dan manik-manik.

Kebudayaan
Sebagai negara besar di Kepulauan Nusantara, bandar-bandar Majapahit tentu ramai dengan perdagangan yang melewati jalur laut. Perahu-perahu niaga akan sibuk berlalu-lalang. Pelabuhan- pelabuhan penting pada masa Majapahit diantaranya adalah: Gresik; Sidhayu; Tuban, Surabhaya, Pasuruhan dan Canggu. Bukti- bukti keberadaan pelabuhan-pelabuhan niaga tersebut disebutkan dalam berbagai prasasti, Kitab-kitab kuno dan berita-berita yang ditulis para musafir. Namun, keberadaan pelabuhan-pelabuhan tersebut tidak serta-merta disertai dengan deskripsi yang gamblang tentang perahu-perahu pada masa itu, yang dipakai untuk berniaga di pelabuhan-pelabuhan tersebut. Indikasi samar-samar tentang jenis perahu yang dipakai orang Majapahit dapat diambil dari Kidung Sunda. Semua naskah kidung berasal dari Bali namun tidak dapat dipastikan apakah ditulis di Bali atau di Jawa. Pengarang tidak diketahui, kemungkinan ditulis sesudah tahun 1540. Meskipun Kidung Sunda adalah sepenuhnya karya sastra yang tidak bisa dijadikan pegangan sejarah, tetapi, kisah yang diceritakannya kemungkinan berasal dari fakta sejarah. Pupuh I Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar. Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan. Mereka berlayar dengan 200 perahu besar dengan banyak perahu-perahu kecil yang menyertai Jumlah keseluruhan perahu-perahu tersebut setidaknya 2000 buah. Namun sebelum rombongan bangsawan Sunda ini naik ke perahu, mereka melihat ada pertanda buruk. Perahu yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “Jung Tatar, yang semenjak Perang Wijaya secara umum memang banyak dipakai (Menelusuri Rancang Bangun Perahu Pada Masa Kerajaan Majapahit Studi Persiapan Samodra
Penyebutan Jung Tatar pada kidung ini, mengindikasikan bahwa ada jenis Jung Lain atau setidaknya perahu jenis lain yang secara politik dan psikologis tidak mengingatkan orang pada konflik di awal berdirinya Kerajaan Majapahit Jung Jawa Pada Akhir Masa Kerajaan Majapahit Dari beberapa naskah, didapat sedikit penjelasan tentang bentuk dari Jung Jawa. Catatan paling utama di dapat dari orang-orang Portugis yang secara langsung terlibat konflik dengan Pasukan Ekspesidi dari jawa pada tahun 1511. Dengan demikian patut diduga bahwa pada masa Majapahit bentuk-bentuk ini tentu secara umum masih banyak dijumpai. Sampai saat ini belum ditemukan bukti bahwa bentuk lambung Perahu Borobudur, masih dipakai sampai masa Majapahit. Pada masa Majapahit, setidaknya pada periode akhir, terdapat jenis perahu yang disebut dengan Jung Jawa. Untuk menentukan bentuk dari Jung Jawa pada masa akhir Majapahit ini diperlukan penelitian lebih lanjut. Pada pupuh LXVI Nagarakrtagama dijelaskan pula sarana transportasi bergerak selain didarat adalah sarana transportasi air berupa perahu. Dijelaskan dalam Negarakrtagama : “ pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian. Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumahrumahhan yang terpikul. Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung. (Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan Menelusuri Rancang Bangun Perahu Pada Masa Kerajaan Majapahit Studi Persiapan Samodra
Pada saat peresmian daerah perdikan Majapahit jenis makanan yang disediakan dalam acara tersebut. Tak diduga, cara penyajian makanan masa itu tidak jauh berbeda dengan masa sekarang. Seperti nasi tumpeng dengan lauk pauk. Lauk pauk seperti daging kerbau, kijang, babi, ayam, angsa dan berbagai jenis ikan. Lauk diolah dengan diasinkan, diasamkan, diasap, dipanggang hingga direbus. Seperti gunungan, ada sayur sayurannya. Tempat makannya memakai daun pisang (Metropolitan Yang Hilang oleh Mahandis Y. Tamrin dalam majalah National Geographic Indonesia September 2012 hal 29).



Sumber Buku
Hamid, Abd Rahman. 2015. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Ombak
Daldjoeni, N. 1992. Geografi Kesejarahan II Indonesia. Bandung : Penerbit Alumni
Darini, Ririn, Ringo Rahata, Wahjudi Djaja, Mulyadi. 2016. Buku Siswa Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI. Klaten : Penerbit Cempaka Putih


Sumber Surat Kabar dan Majalah
Melihat Trowulan Membaca Peradaban dalam Kompas, Rabu 20 September 2006 Hal. 14
Metropolitan Yang Hilang oleh Mahandis Y. Tamrin dalam majalah National Geographic Indonesia September 2012

Sumber Jurnal Ilmiah (Internet) :
SEJARAH MARITIM INDONESIA MENELUSURI JIWA BAHARI BANGSA INDONESIA DALAM PROSES INTEGRASI BANGSA (Sejak Jaman Prasejarah Hingga Abad XVII) oleh Safri Burhanuddin, A.M. Djuliati Suroyo, Endang Susilowati, Singgih Tri Sulistyono, Agus Supriyono, Sutejo Kuat Widodo, Ahmad Najid, Dini Purbani. UNDIP https://kalamkopi.files.wordpress.com/2017/04/dep-kelautan-sejarah-maritim-indonesia.pdf diakses hari Rabu tanggal 1 Agustus 2018 pukul 12:05 WIB

Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia : Belajar Sejarah oleh Singgih Tri Sulistiyono. https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/download/33461/20140 diakses hari Kamis 30 Agustus 2018 Pukul 15.02 WIB

Menelusuri Rancang Bangun Perahu Pada Masa Kerajaan Majapahit Studi Persiapan Samodra

E Book berjudul Majapahit Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota dikutip dari  http://repositori.kemdikbud.go.id/2054/1/Buku%20Majapahit2.pdf diakses hari minggu, 15 September 2019 pukul 07.14 WIB

SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO


SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO

Syajara dari bahasa Arab yang berarti “terjadi”, syajarah berarti “pohon”, syajarah an-nasab berarti “pohon silsilah”, bahasa Inggris history, bahasa Latin dan Yunani historia, bahasa Yunani Histor atau istor berarti “orang pandai”. Pernyataan tersebut asal usul kata sejarah dari asal katanya. Ada yang menarik bila kita belajar sejarah, dimana baik pelajaran maupun pengalaman ternyata penting untuk ilmu sejarah. Pelajaran di sekolah setidaknya mengajarkan fakta sejarah dan pengalaman akan membuat orang lebih bijaksana, dua hal yang sangat penting bagi sejarawan.
Biasanya kita merasa sudah mengerti penggunaan kata sejarah. Apa yang sudah terjadi, semua kita anggap sebagai sejarah. Padahal apa yang sudah terjadi atau sejarah itu ada dua macam, yaitu yang terjadi di luar pengetahuan manusia (disebut juga sejarah objektif) dan yang terjadi sepengetahuan manusia (disebut juga sejarah subjektif). Kata “sejarah” dalam “Sejarah Nasional“ merujuk pada sejarah subjektif itu.
Kata sejarah didengar pertama kali karena dipakai oleh guru sejarah. Pelajaran yang mengandung pesan-pesan moral. Sejarah baik muatan lokal maupun muatan nasional dalam tiap tingkatan itu seharusnya mempunyai pendekatan berbeda, sehingga sejarah tidak membosankan, karena banyak kesamaan dan pengulangan. Untuk SD, sejarah dapat dibicarakan dengan pendekatan estetis, artinya sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan  rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa. Untuk SMP, sejarah hendaknya diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang. Hal ini diharapkan mereka yang sudah lulus SMP selain mencintai  perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa, mereka juga tidak canggung dalam pergaulan masyarakat yang semakin majemuk. Kepada anak-anak SMA yang sudah mulai bernalar itu, sejarah harus diberikan secara kritis. Mereka diharapkan sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan ke mana arah kejadian-kejadian itu.
Selain perbedaan dalam pendekatan untuk tiap tingkatan, sejarah juga harus diberikan seperti orang menenun. Ibarat menenun benang, sejarah harus disampaikan jalur atas bawah dan kolong ke samping kanan kirinya atau dimensi waktu (temporal) dan ruangnya (spatial, dari bahasa Latin spatioum yang berarti “ruang”), atau aspek proses (dari bahasa Latin processus yang berarti “berjalan maju”) dan aspek strukturnya (dari bahasa Latin structura yang berarti “bangunan”), atau segi diakronis (bahasa Latin dan Yunani dia yang berarti “melampaui”, bahasa Yunani chromos yang berarti “waktu”) dan sinkronisnya (bahasa Yunani synchronus yang berarti “terjadi secara bersamaan”).
Sejarah juga berkaitan dengan pegawai sejarah. Pekerjaan mereka dihadapkan dengan persaingan globalisasi yang memberi sajian-sajian yang bukan saja anasional tetapi juga ahistoris. Sajian-sajian itu anasional, karena menyuguhkan sesuatu yang tidak berakar dalam dalam kebudayan nasional. Juga bersifat ahistoris karena tidak mengajarkan masyarakat untuk berpikir secara urut, dari masa lalu, masa kini dan masa depan.
Terdapat pula pelaku dan saksi sejarah. Pelaku sejarah adalah orang yang secara langsung terlibat dalam pergulatan sejarah. Saksi sejarah ialah orang yang mengetahui suatu peristiwa sejarah, tetapi tidak terlibat langsung. Ini bisa digali dengan menggunakan metode sejarah lisan, baik pengalaman pelaku maupun saksi sejarah itu akan diungkapkan. Dalam penelitian dan penulisan sejarah perlulah imajinasi.
Sejarah bukanlah mitos (mythos dari bahasa Yunani yang berarti “dongeng”). Mitos menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas dan kejadian yang tidak masuk akal orang masa kini. Mitos biasanya dimulai dengan kata “yang empunya cerita” atau “kata sahibul hikayat”. Dalam mitos tidak ada penjelasan tentang kapan peristiwa terjadi, sedangkan dalam sejarah semua peristiwa secara persis diceritakan kapan terjadi. Kejadian-kejadian dalam mitos itu tidaklah masuk akal orang masa kini, sekalipun dipercaya sebagai sungguh-sungguh terjadi pada masa lalu. Mitos berkembang bersama dengan nyanyian, mantra, syair dan pepatah termasuk tradisi lisan. Tradisi lisan sendiri dapat menjadi sejarah, asal ada sumber sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan. Jadi semua sumber itu sah sifatnya asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.
Sejarah itu bukan filsafat. Sejarah sebagai ilmu yang konkret bukan ilmu yang abstrak. Sejarah pada sejarahnya berusaha mandiri sebagai ilmu positif dengan Leopold von Ranke (1795-1886) dari Jerman yang menganjurkan supaya sejarawan hanya menulis apa yang sesungguhnya terjadi. Ia sering disebut sebagai bapak historiografi modern. Dengan cara menulis tentang apa yang sesungguhnya terjadi, sejarah akan menjadi objektif. Filsafat itu abstrak (bahasa latin abstractus berarti “pikiran”) dan spekulatif (bahasa latin speculation berarti “gambaran angan-angan”). Dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian.
Sejarah itu bukan ilmu alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaanya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau human studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah ke dalam ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan ilmu kemanusiaan (humanities). Ilmu-ilmu alam (termasuk ilmu-ilmu sosial tertentu) bertujuan menemukan hukum-hukum umum, atau bersifat nomotetis (bahasa Yunani nomo berarti “hukum”, dan tithenai berarti “mendirikan”). Sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat idiografis (bahasa Yunani idio berarti “ciri-ciri seseorang”, dan bahasa Yunani graphein berarti “menulis”, sering juga disebut Ideografis, bahasa Yunani idea berarti “pikiran” dan graphein, sebab sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku). Dalam ilmu alam, hukum-hukum berlaku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu dan suasana. Beda dengan sejarah.
Sejarah bukanlah sastra. Sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana dimengerti oleh pengarangnya. Sedangkan sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap- lengkapnya, setuntas-tuntasnya dan sejelas-jelasnya.
Sejarah sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta (bahasa latin factus berari “apa yang sudah selesai”). Kebenaran sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap secara objektif. Hasil akhir yang diharapkan ialah kecocokan antara pemahaman sejarah dengan fakta. Jadi, secara positif.
Sejarah ialah ilmu tentang manusia. Sejarah hanya bercerita tentang manusia. Akan tetapi juga bukan cerita tentang masa lalu manusia secara keseluruhan. Manusia yang berupa fosil menjadi objek penelitian antropologi ragawi dan bukan sejarah. Begitu pun benda-benda yang meskipun buatan manusia tetapi lebih menjadi pekerjaan arkeologi. Sejarah hanya mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis antara arkeologi dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500. Akan tetapi, manusia masa kini menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial.
Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah membicaran masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah tentang waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu ? dalam waktu terjadi empat hal yaitu perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan.  Perkembangan terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Pengulangan terjadi bila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi kembali. Perubahan terjadi bila masyarakat mengalami pergeseran sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya, perubahan terjadi karena pengaruh dari luar. Agar setiap waktu dapat dipahami, sejarah membuat pembabakan waktu atau periodisasi. Maksud periodisasi ialah supaya setiap babak waktu itu menjadi jelas ciri-cirinya, sehingga mudah dipahami. Demikian juga sejarah Indonesia biasanya dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu Prasejarah, zaman kuno, zaman Islam dan zaman modern.
Sejarah adalah sejarah tertentu, particular (bahasa Latin particularis berarti “tertentu”, lawan kata dari general bahasa Latin generalis berarti “umum”). Sejarah itu ilmu mengenai satu-satunya, unik (bahasa Inggris unique, bahasa Latin unicus berarti “satu-satunya”, lawan kata dari similar, bahasa Latin similis berarti “seperti”). Karena sejarah harus menulis peristiwa, tempat, dan waktu yang hanya sekali terjadi. Sejarah harus terperinci, detail (bahasa Prancis Kuno detailler berarti “terperinci”, bahasa Latin dis berarti “terpisah” dan talea berarti “memotong”). Maksudnya sejarah harus menyajikan yang kecil-kecil, tidak terbatas pada hal-hal yang besar. Sejarawan adalah master of details.
Jadi sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Jangan dibayangkan bahwa membangun kembali masa lalu itu untuk kepentingan masa lalu sendiri; itu antikuarianisme dan bukan sejarah. Ada definisi sejarah yang tautologies yang mengatakan bahwa sejarah ialah apa yang dikerjakan sejarawan. Tautologi ini menegaskan bahwa sejarawan mempunya kebebasan dalam rekonstruksi. Yang mengikat sejarawan hanyalah fakta sejarah. Bila diumpamakan sejarawan itu seperti dalang, ia dapat memainkan apa saja. Akan tetapi, ia dibatasi oleh dua hal yaitu wayang dan lakon. Diumpamakan wayang sebagai fakta dan lakon itu sebagai tema yang dipilih sejarawan. Apa yang direkonstruksi sejarah ? ialah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah.

Sumber
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Tiara Wacana