Rabu, 18 September 2019

SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO


SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO

Syajara dari bahasa Arab yang berarti “terjadi”, syajarah berarti “pohon”, syajarah an-nasab berarti “pohon silsilah”, bahasa Inggris history, bahasa Latin dan Yunani historia, bahasa Yunani Histor atau istor berarti “orang pandai”. Pernyataan tersebut asal usul kata sejarah dari asal katanya. Ada yang menarik bila kita belajar sejarah, dimana baik pelajaran maupun pengalaman ternyata penting untuk ilmu sejarah. Pelajaran di sekolah setidaknya mengajarkan fakta sejarah dan pengalaman akan membuat orang lebih bijaksana, dua hal yang sangat penting bagi sejarawan.
Biasanya kita merasa sudah mengerti penggunaan kata sejarah. Apa yang sudah terjadi, semua kita anggap sebagai sejarah. Padahal apa yang sudah terjadi atau sejarah itu ada dua macam, yaitu yang terjadi di luar pengetahuan manusia (disebut juga sejarah objektif) dan yang terjadi sepengetahuan manusia (disebut juga sejarah subjektif). Kata “sejarah” dalam “Sejarah Nasional“ merujuk pada sejarah subjektif itu.
Kata sejarah didengar pertama kali karena dipakai oleh guru sejarah. Pelajaran yang mengandung pesan-pesan moral. Sejarah baik muatan lokal maupun muatan nasional dalam tiap tingkatan itu seharusnya mempunyai pendekatan berbeda, sehingga sejarah tidak membosankan, karena banyak kesamaan dan pengulangan. Untuk SD, sejarah dapat dibicarakan dengan pendekatan estetis, artinya sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan  rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa. Untuk SMP, sejarah hendaknya diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang. Hal ini diharapkan mereka yang sudah lulus SMP selain mencintai  perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa, mereka juga tidak canggung dalam pergaulan masyarakat yang semakin majemuk. Kepada anak-anak SMA yang sudah mulai bernalar itu, sejarah harus diberikan secara kritis. Mereka diharapkan sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan ke mana arah kejadian-kejadian itu.
Selain perbedaan dalam pendekatan untuk tiap tingkatan, sejarah juga harus diberikan seperti orang menenun. Ibarat menenun benang, sejarah harus disampaikan jalur atas bawah dan kolong ke samping kanan kirinya atau dimensi waktu (temporal) dan ruangnya (spatial, dari bahasa Latin spatioum yang berarti “ruang”), atau aspek proses (dari bahasa Latin processus yang berarti “berjalan maju”) dan aspek strukturnya (dari bahasa Latin structura yang berarti “bangunan”), atau segi diakronis (bahasa Latin dan Yunani dia yang berarti “melampaui”, bahasa Yunani chromos yang berarti “waktu”) dan sinkronisnya (bahasa Yunani synchronus yang berarti “terjadi secara bersamaan”).
Sejarah juga berkaitan dengan pegawai sejarah. Pekerjaan mereka dihadapkan dengan persaingan globalisasi yang memberi sajian-sajian yang bukan saja anasional tetapi juga ahistoris. Sajian-sajian itu anasional, karena menyuguhkan sesuatu yang tidak berakar dalam dalam kebudayan nasional. Juga bersifat ahistoris karena tidak mengajarkan masyarakat untuk berpikir secara urut, dari masa lalu, masa kini dan masa depan.
Terdapat pula pelaku dan saksi sejarah. Pelaku sejarah adalah orang yang secara langsung terlibat dalam pergulatan sejarah. Saksi sejarah ialah orang yang mengetahui suatu peristiwa sejarah, tetapi tidak terlibat langsung. Ini bisa digali dengan menggunakan metode sejarah lisan, baik pengalaman pelaku maupun saksi sejarah itu akan diungkapkan. Dalam penelitian dan penulisan sejarah perlulah imajinasi.
Sejarah bukanlah mitos (mythos dari bahasa Yunani yang berarti “dongeng”). Mitos menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas dan kejadian yang tidak masuk akal orang masa kini. Mitos biasanya dimulai dengan kata “yang empunya cerita” atau “kata sahibul hikayat”. Dalam mitos tidak ada penjelasan tentang kapan peristiwa terjadi, sedangkan dalam sejarah semua peristiwa secara persis diceritakan kapan terjadi. Kejadian-kejadian dalam mitos itu tidaklah masuk akal orang masa kini, sekalipun dipercaya sebagai sungguh-sungguh terjadi pada masa lalu. Mitos berkembang bersama dengan nyanyian, mantra, syair dan pepatah termasuk tradisi lisan. Tradisi lisan sendiri dapat menjadi sejarah, asal ada sumber sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan. Jadi semua sumber itu sah sifatnya asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.
Sejarah itu bukan filsafat. Sejarah sebagai ilmu yang konkret bukan ilmu yang abstrak. Sejarah pada sejarahnya berusaha mandiri sebagai ilmu positif dengan Leopold von Ranke (1795-1886) dari Jerman yang menganjurkan supaya sejarawan hanya menulis apa yang sesungguhnya terjadi. Ia sering disebut sebagai bapak historiografi modern. Dengan cara menulis tentang apa yang sesungguhnya terjadi, sejarah akan menjadi objektif. Filsafat itu abstrak (bahasa latin abstractus berarti “pikiran”) dan spekulatif (bahasa latin speculation berarti “gambaran angan-angan”). Dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian.
Sejarah itu bukan ilmu alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaanya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau human studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah ke dalam ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan ilmu kemanusiaan (humanities). Ilmu-ilmu alam (termasuk ilmu-ilmu sosial tertentu) bertujuan menemukan hukum-hukum umum, atau bersifat nomotetis (bahasa Yunani nomo berarti “hukum”, dan tithenai berarti “mendirikan”). Sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat idiografis (bahasa Yunani idio berarti “ciri-ciri seseorang”, dan bahasa Yunani graphein berarti “menulis”, sering juga disebut Ideografis, bahasa Yunani idea berarti “pikiran” dan graphein, sebab sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku). Dalam ilmu alam, hukum-hukum berlaku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu dan suasana. Beda dengan sejarah.
Sejarah bukanlah sastra. Sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana dimengerti oleh pengarangnya. Sedangkan sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap- lengkapnya, setuntas-tuntasnya dan sejelas-jelasnya.
Sejarah sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta (bahasa latin factus berari “apa yang sudah selesai”). Kebenaran sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap secara objektif. Hasil akhir yang diharapkan ialah kecocokan antara pemahaman sejarah dengan fakta. Jadi, secara positif.
Sejarah ialah ilmu tentang manusia. Sejarah hanya bercerita tentang manusia. Akan tetapi juga bukan cerita tentang masa lalu manusia secara keseluruhan. Manusia yang berupa fosil menjadi objek penelitian antropologi ragawi dan bukan sejarah. Begitu pun benda-benda yang meskipun buatan manusia tetapi lebih menjadi pekerjaan arkeologi. Sejarah hanya mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis antara arkeologi dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500. Akan tetapi, manusia masa kini menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial.
Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah membicaran masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah tentang waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu ? dalam waktu terjadi empat hal yaitu perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan.  Perkembangan terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Pengulangan terjadi bila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi kembali. Perubahan terjadi bila masyarakat mengalami pergeseran sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya, perubahan terjadi karena pengaruh dari luar. Agar setiap waktu dapat dipahami, sejarah membuat pembabakan waktu atau periodisasi. Maksud periodisasi ialah supaya setiap babak waktu itu menjadi jelas ciri-cirinya, sehingga mudah dipahami. Demikian juga sejarah Indonesia biasanya dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu Prasejarah, zaman kuno, zaman Islam dan zaman modern.
Sejarah adalah sejarah tertentu, particular (bahasa Latin particularis berarti “tertentu”, lawan kata dari general bahasa Latin generalis berarti “umum”). Sejarah itu ilmu mengenai satu-satunya, unik (bahasa Inggris unique, bahasa Latin unicus berarti “satu-satunya”, lawan kata dari similar, bahasa Latin similis berarti “seperti”). Karena sejarah harus menulis peristiwa, tempat, dan waktu yang hanya sekali terjadi. Sejarah harus terperinci, detail (bahasa Prancis Kuno detailler berarti “terperinci”, bahasa Latin dis berarti “terpisah” dan talea berarti “memotong”). Maksudnya sejarah harus menyajikan yang kecil-kecil, tidak terbatas pada hal-hal yang besar. Sejarawan adalah master of details.
Jadi sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Jangan dibayangkan bahwa membangun kembali masa lalu itu untuk kepentingan masa lalu sendiri; itu antikuarianisme dan bukan sejarah. Ada definisi sejarah yang tautologies yang mengatakan bahwa sejarah ialah apa yang dikerjakan sejarawan. Tautologi ini menegaskan bahwa sejarawan mempunya kebebasan dalam rekonstruksi. Yang mengikat sejarawan hanyalah fakta sejarah. Bila diumpamakan sejarawan itu seperti dalang, ia dapat memainkan apa saja. Akan tetapi, ia dibatasi oleh dua hal yaitu wayang dan lakon. Diumpamakan wayang sebagai fakta dan lakon itu sebagai tema yang dipilih sejarawan. Apa yang direkonstruksi sejarah ? ialah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah.

Sumber
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Tiara Wacana

30 komentar:

  1. Nama : Umu Amanah Dwi Hestiani
    Kelas : X IPS 1

    BalasHapus
  2. Nama : Khailila Anggun Aprilia
    Kelas : X IPS 1

    BalasHapus
  3. Nama:Hanna Damai Kristiani
    Kelas:X IPS 1

    BalasHapus
  4. Nama : Eka Sari Nur Arianti
    Kelas : x IPS 1

    BalasHapus
  5. Nama : Muhammad Tri Akbar Muttaqin
    Kelas: Xips 1

    BalasHapus
  6. Nama:Tawakal Putra Mukti
    Kelas:X IPS 1

    BalasHapus
  7. Nama:Anjani Puspita Arum
    Kelas:X IPS 3

    BalasHapus
  8. Nama:Oktavia Aulia Rista
    Kelas:X IPS 3

    BalasHapus
  9. Nama:Oktavia Aulia Rista
    Kelas:X IPS 3

    BalasHapus
  10. Nama:Noviana Aryanti Putri
    Kelas:X IPS 3

    BalasHapus
  11. Nama: tita sriana
    Kelas:x IPS 4

    BalasHapus
  12. Nama:Sahrul Nur Miftah
    Kelas:X IPS 4

    BalasHapus
  13. Nama:Rina Umiati
    Kelas:X IPS 4

    BalasHapus
  14. Nama:fina priatun
    Kelas:X ips 4

    BalasHapus
  15. Baguss agar kita mengetahui sejarah sejarah yg dulu kita tidak tahu

    BalasHapus
  16. Nama:Shofia Nur Alifah
    Kelas:X ips 4

    BalasHapus
  17. Nama:M Ramdan Oktobri
    Kelas:X IPS 4

    BalasHapus
  18. Kalau ada pertanyaan dipersilakan disampaikan di komentar. dengan tetap memberi nama terang dan kelas. terima kasih.

    BalasHapus
  19. Nama: ius arkarino
    Kelas: X IPS 4

    BalasHapus
  20. Nama:fina priatun
    Kelas:X ips 4

    BalasHapus
  21. Nama:sofan sidik
    Kelas:x ips4

    BalasHapus
  22. Nama: Annisa Aurelia Irawan
    Kelas: X IPS 4

    BalasHapus
  23. Nama: ius arkarino
    Kelas: X IPS 4

    BalasHapus
  24. Terimakasih telah mengikuti pembelajaran sejarah hari ini. bagi yang belum masih saya tunggu sampai minggu depan. bagi yang telah membaca postingan ini untuk dapat meninggalkan jejak dengan menuliskan nama dan kelas. terimakasih atas kehadiran dan perhatiannya.

    BalasHapus
  25. Nama : M. BAHARUDIN YUSUF AZIZ
    Kelas : X MIPA 5

    BalasHapus