Senin, 10 Agustus 2020

SURAT DARI DIGUL UNTUK ARMADA HITAM DI AUSTRALIA (BAGIAN SATU)

 

SURAT DARI DIGUL UNTUK ARMADA HITAM DI AUSTRALIA

(Judul terinspirasi dari buku berjudul “ARMADA HITAM” Karya Rupert Lockwood)

Oleh : TOpan

 

Kapal uap Belanda Both pada pertengahan 1943 melintasi Selat Torres, sampai akhirnya dengan melintasi kepulauan karang Barrier Reef ia memasuki Pelabuhan Bowen, Queensland Utara, sebagai kapal pertama yang ditugaskan mendarat orang-orang hukuman di Australia Timur. Kabut kerahasiaan yang menutupi misi Both ke Australia itu segera tersingkap, sesudah tali-tali tambatan dilontarkan ke darat. Sepucuk surat dengan tulisan jatuh ke kaki seorang dari kaum buruh pinggir air di Bowen, yang sedang bertugas memuat batu bara dan perbekalan kapal. Surat itu menjelaskan bahwa yang termuat dalam kapal itu adalah lebih dari 500 orang Indonesia, lelaki, perempuan dan anak-anak, dari kamp penjara Belanda Tanah Merah yang seringkali dinamakan Boven Digul. Para tawanan politik Indonesia itu akan diinternir lagi di Australia. Tulisan itu dengan tegas mengisyaratkan bahwa bantuan orang Australia dalam membebaskan mereka akan disambut dengan baik (Lockwood, 1983 : 14). 

Buruh tepi air Bowen  yang memungut surat yang dilemparkan dari kapal Both itu cukup tergerak hatinya dan segera memberikan perhatian politik kepada derita manusia-manusia yang menjadi tahanan di atas kapal itu. Suratpun dibawa ke Brisbane dengan kurir, selanjutnya ke Sydney. Bahasa Inggris yang telah dipelajari oleh si orang Indonesia di Boven Digul menjadi bab pertama dari cerita tentang gerakan pemboikotan yang paling efektif dan paling penting dalam sejarah Australia (Lockwood, 1983 : 15). 

Di stasiun Liverpool para tawanan Tanah Merah melontarkan suratnya yang kedua, yang ditujukan kepada siapa saja orang Australia yang ada kemungkinan bersimpati kepada keadaan mereka yang buruk itu. Surat itu ditulis dengan potlot dan dilemparkan ke peron, jatuh dekat kaki seorang buruh kereta api. Yang menulis surat itu adalah seorang buruh kereta api yang namanya oleh orang-orang Australia yang kemudian hari  mengenalnya diucapkan Jo-Jo.  Surat Jo-Jo yang ditulis dalam bahasa Inggris itu dapatlah mengungkapkan bahwa para tawanan di atas kereta api itu adalah orang-orang Indonesia, tawanan dari Belanda kolonial. Surat menyatakan bahwa orang-orang yang ada diatas kereta api itu kebanyakan telah tinggal di Tanah Merah sejak tahun 1926 – 1927 ; ia menyatakan  juga bahwa banyak dari teman-temannya telah mati di Digul, dan sebagian  dari orang-orang yang akan diinternir kembali di Australia itu sudah sakit keras, kena malaria, tbc dan penyakit-penyakit lain. Penulis surat menyatakan tekadnya atas nama teman- teman setawanan untuk berjuang membebaskan diri dari penjara lanjutan di Australia dan untuk memperoleh bantuan pengobatan bagi mereka yang sakit (Lockwood, 1983 : 21). 

Dikenalinya orang-orang buangan Tanah Merah akibat dari surat yang dijatuhkan ke darat di Bowen dan kemudian akibat surat kedua yang dilontarkan kepada seorang  buruh kereta api Sydney dari kereta api tawanan yang melewati stasion Liverpool dalam perjalanan ke sebuah kamp tidak jauh dari sana. Inilah yang menjadi dasar dari front Indonesia Australia dalam melawan usaha Belanda untuk menghancurkan Republik, dan menandai terjadinya perpecahan pertama antara Belanda dan Australia di tingkat pemerintah. Orang-orang hukuman dari kapal Both itulah para pemrakarsa gerakan di pelabuhan-pelabuhan Australia dan di pangkalan -pangkalan Belanda yang telah menghalang-halangi kembalinya Belanda ke Hindia (Lockwood, 1983 : 15). 

            Anggota staf stasiun Liverpool yang memungut surat Jo-Jo itu adalah seorang anggota serikat buruh yang militan. Ketika selesai aplusannya hari itu, ia pun membawa surat itu kepada Nyonya Laura Gapp dari Liga Hak-Hak Sipil yang waktu itu merupakan organisasi kebebasan sipil yang terkemuka di Sydney. Kalau surat yang dilemparkan di dermaga Bowen itu merupakan peringatan awal, maka surat yang dilemparkan di stasiun Liverpool itulah yang segera meletikkan api aksi. Nyonya Gapp dan teman-teman serikat buruh mengikuti jejak orang-orang Tanah Merah itu ke kamp interniran Liverpool dengan bantuan beberapa orang tentara Australia (Lockwood, 1983 : 21). 

Mereka segera melihat bahwa orang-orang Indonesia itu sama sekali bukan teman orang Jepang : mereka pun mulai mengetahui riwayat Tanah Merah itu dan menyampaikan ceritanya kepada orang-orang serikat buruh. Nyonya Laura Gapp membenarkan bahwa prajurit Australia yang mengawal orang-orang Indonesia itu adalah orang-orang yang menyimpan rasa belas kasihan. Sekalipun memasukkan bungkusan berisi buah, kue, susu kaleng, gula-gula, dan pemberian lainnya untuk para tawanan itu dilarang, namun prajurit itu mengizinkan memasukkan obat-obatan untuk orang-orang  Indonesia yang menderita sakit (Lockwood, 1983 : 22). 

Segera setelah buruh kereta api dari Liverpool membawa surat yang di lemparkan oleh Jo-Jo dari kereta api di stasiun Liverpool itu kepada Nyonya Laura Gapp, maka nyonya itu pun berada di kantor Menteri Luar Negeri dan Jaksa Agung, Dr. Hebert Vere Evatt, di gedung Parlemen, Canberra. Inilah permulaan kerjasama Australia-Indonesia dalam melawan Belanda di tingkat politik tinggi. Menurut Nyonya Gapp, Dr. Evatt merasa gundah dan sedikit prehatin dengan terus diinternirnya orang-orang Indonesia yang diturunkan dari kapal Both, dan mencoba cuci tangan dari tanggung jawab atasnya. Dengan baik-baik Dr. Evatt mendorong Nyonya Gapp untuk memulai kampanye pembebasan orang-orang Indonesia, yang berarti membantunya memperoleh dukungan yang diperlukannya di dalam kabinet yang hati-hati itu untuk menantang Belanda dan memerintahkan pembebasan orang-orang itu dari Cowra dan Liverpool, kalau para penguasa Hindia Belanda menolak. Dr. Evatt telah mengajukan permintaan pribadi kepada para pemimpin Hindia Belanda untuk memberikan kebebasan kepada para interniran Tanah Merah itu (Lockwood, 1983 : 22). 

Bartlett Adamson (penyair dan penulis Australia) banyak memberikan bantuan. Ia telah membuat daftar bantuan dari badan-badan kebudayaan dan penulis-penulis terkemuka, dalam kampanye untuk membebaskan para tawanan Indonesia itu.  Bersama dengan Nyonya Gapp, Bartlett Adamson bikin ribut di Konsulat Belanda (Margaret Street, Sydney). Berikutnya Nyonya Gapp dan Bartlett Adamson mendobrak pintu klinik kesehatan yang dikelola oleh angkatan bersenjata pelarian Hindia Belanda di Kent Street, dekat jembatan pelabuhan Sydney. Kedua orang ini mendesak dokter di klinik tersebut agar berbuat sesuatu untuk para tawanan Tanah Merah yang sakit di Liverpool, yaitu membiarkan mereka datang ke klinik pengobatan, atau membebaskan mereka untuk datang ke rumah sakit Australia. Segera kemudian tekananpun menjadi sangat kuat, dan agitasi yang semakin memuncak itu menyebabkan Pemerintah Curtin mengajukan permintaan tegas  kepada para pemimpin Hindia Belanda (Lockwood, 1983 : 22-23).  

Dr. Hebert Vere Evatt membantu melonggarkan jalan masuk menuju orang-orang Indonesia dengan caranya sendiri. Ia telah menghilangkan pengawal Belanda dari kamp-kap dan menggantikannya dengan pengawasan yang seluruhnya Australia, yaitu segera sesudah Nyonya Gapp membuat laporan pertama tentang tawanan-tawanan yang sakit di Liverpool (Lockwood, 1983 : 23-24).  Para penderita sakit dipindahkan dari Liverpool ke rumah sakit Princess Juliana yang dikelola Belanda di Turramurra, Pantai Utara Sydney. Beberapa orang pasien dapat sembuh dengan cepat karena perawan kedokteran itu, dan lalu bekerja di berbagai bidang industri, konstruksi dan kantor, untuk membantu usaha perang anti Jepang (Lockwood, 1983 : 24). 

Pembebasan tawanan yang sakit dari Liverpool memperkuat tuntutan agar semua orang Indonesia dibebaskan segera. Kamp tawanan yang liar dan diterpa angin dingin dikecam habis oleh Dr. Evatt. Komisi Hindia Belanda yang bertindak sebagai pemerintah dalam pembuangan di Australia didesak untuk pembebaskan sisa dari para interniran di Liverpool. Pada tangggal 7 Desember 1943 kamp tawanan di blok D di Cowra dibuka. Para juru bicara orang buangan Tanah Merah  mengakui bahwa rasa merdeka yang pertama itu berhasil dimenangkan (Lockwood, 1983 : 24).   

Banyak eks Digulis yang menerima pekerjaan di bawah Belanda di Australia, mereka terima itu tidak hanya untuk membantu usaha perang melawan Jepang, melainkan juga untuk menyabot pendudukan kembali Hindia oleh Belanda, yang hendak dilancarkan dari pangkalan-pangkalan di Australia (Lockwood, 1983 : 24).  Para eks Digulis dengan demikian menangani pekerjaan–pekerjaan yang sifatnya produktif dalam mengetahui gerakan Belanda di udara, laut dan darat, dalam mengetahui kedudukan gudang-gudang mesiu dan seluk beluk muatan kapal. Mereka dapat mengetahui isi pesan-pesan  yang disampaikan kepada aparat Hindia Belanda di Australia oleh Komando Pasifik Barat Daya dari Jenderal Douglas MacArthur, oleh Pemerintah Belanda Kerajaan dalam Pembuangan di London, oleh departemen-departemen Pemerintah Australia di Canberra dan oleh lain-lain pengirim berita vital. Para eks Digulis ini pun dapat berkomunikasi dengan organisasi-organisasi Partai Buruh, dengan Dewan-Dewan Pekerjaan dan Perburuhan di Brisbane dan Queensland Utara serta dengan para pramuniaga toko milik serikat buruh (Lockwood, 1983 : 33). Orang-orang eks Digulis bekerja bahu membahu dengan orang-orang Indonesia yang telah datang di Australia bersama pemerintahan, angkatan bersenjata dan armada pelayaran Hindia Belanda, serta melakukan propaganda di antara mereka itu mengenai revolusi sesudah perang, menentang Belanda (Lockwood, 1983 : 34).  

Pertengahan tahun 1944 dibentuk secara setengah rahasia kelompok kelompok republican yang disebut Komite-Komite Kemerdekaan Indonesia yang mencakup anggota-anggota PKI, orang-orang Islam dan orang-orang  Indonesia yang tidak tergabung dalam sesuatu organisasi. Slogan yang dikumandangkannya adalah demi republik, dan bukan demi Sovyet atau kekuasaan sosialis, seperti di jaman tahun 1926. PKI di Australia mengajarkan bahwa kekuasaan yang datang adalah suatu “republik rakyat demokratis”. Inti struktur komando republik yang dipersiapkan untuk menggantikan kekuasaan Belanda atas orang Indonesia di Australia itu terbentuk pada pertengahan tahun 1944 (Lockwood, 1983 : 35).  

Melalui percabangan dan badan-badan kontaknya yang tersebar luas, CPA telah memberikan bantuan khusus kepada Komite-Komite Kemerdekaan Indonesia dalam melancarkan komunikasi antara berbagai kelompok orang Indonesia di Australia. Cabang-cabang CPA bertindak selaku kantor pos bagi orang-orang Indonesia dengan melangsungkan komunikasi mereka per tangan, biasanya melalui orang-orang revolusioner di kereta api, dinas transport maritim dan angkatan bersenjata (Lockwood, 1983 : 35).  

Dengan upah yang berstandar Australia, orang-orang Indonesia  dapat memperoleh pesawat-pesawat penerima radio atau komponen-komponennya untuk dirakit. Mereka secara teratur memonitor stasiun-stasiun radio di Hindia yang diduduki. Penolakan untuk mendapatkan perlengkapan dari negeri Belanda yang waktu itu berada dalam cengkraman Nazi telah memaksa Pemerintah NEI untuk betul-betul mengandalkan diri kepada orang Indonesia dalam hal pos-pos administrasi dan teknik yang sangat penting. Dengan demikian di permudahlah kebocoran keterangan rahasia kepada kekuatan republik Indonesia di Australia. Dengan adanya para simpatisan republik disemua departemen Belanda di Australia, dan dengan adanya beberapa orang Belanda yang suka bekerjasama dan bersedia membantu, maka Komite-Komite Kemerdekaan seringkali mengetahui isi pesan-pesan dari Pemerintah Belanda Kerajaan di London, dan kemudian juga di Negeri Belanda yang sudah direbut kembali, sebelum diketahui oleh Pemerintah NEI, juga oleh para komandan angkatan bersenjata ataupun dinas-dinas diplomatik dan perbekalan yang ada di Australia (Lockwood, 1983 : 36).  

Bersambung . . . . . . . .

Sumber

Lockwood, Rupert.1983. ARMADA HITAM. Jakarta : Gunung Agung

 

79 komentar:

  1. NAMA : AGISTA
    KELAS : XII IPS 2

    BalasHapus
  2. Nama : Alyani 'Ainun Nafis
    Kelas : XII IPS 2

    BalasHapus
  3. Nama : Marvella Dias Ambarwati
    Kelas : XII IPS 2

    BalasHapus
  4. NAMA :LELI ANTIKA
    KELAS:Xll IPS 2

    BalasHapus
  5. Nama : Muhammad saeful bahri
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  6. Nama : Isnaeni
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  7. Nama : Fitriyah
    Kelas : 12 ips 2

    BalasHapus
  8. Nama: Astri novianti
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  9. Nama :Dwi Nofiana
    Kelas :XII IPs 2

    BalasHapus
  10. Nama :Dwi Nofiana
    Kelas :XII IPs 2

    BalasHapus
  11. Nama :Sindi Mukti Karisma
    Kelas:XII IPS 2

    BalasHapus
  12. Nama :Sindi Mukti Karisma
    Kelas:XII IPS 2

    BalasHapus
  13. Nama: Dea Tiara Karisma
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  14. Nama :Dimas Saputra
    Kelas:Xll IPS 2

    BalasHapus
  15. Nama :Nadia Wulandari
    Kelas :XII IPS 2

    BalasHapus
  16. Nama:Atik tri puji
    Kelas: 12 IPS 2

    BalasHapus
  17. Nama : SURATMAN
    Kelas: Xll IPS 2

    BalasHapus
  18. Nama: anzali maridatul khanifa
    Kelas :XII IPS 2

    BalasHapus
  19. Maaf Baru bisa masuk pak baru dapat blognya🙏

    BalasHapus
  20. Nama : Fani Rahmasari
    Kelas : XII IPS 2

    BalasHapus
  21. Nama : Tri wahyu lestari
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  22. Nama : Wildan Dwi Sholafudin
    Kelas:XII IPS 2

    BalasHapus
  23. Nama :Sekar Sukmaningsih
    Kelas :XII IPS 2

    BalasHapus
  24. Nama:Dipta kanya
    Kelas:XII IPS 2

    BalasHapus
  25. Nama : Disa Putri Pratami
    Kelas: XII IPS 2

    BalasHapus
  26. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  27. Nama: Anggie Dian Septiani
    Kelas: XII IPS 4

    BalasHapus
  28. Nama: Dini Widiani Wendasari
    Kelas: XII IPS 4

    BalasHapus
  29. Nama :Dwi Linda Fatihah
    Kelas:XII IPS 4

    BalasHapus
  30. Nama : Efa Lutfiana
    Kelas:XII IPS 4

    BalasHapus
  31. Nama : Nanda Febiana
    Kelas : XII IPS 4

    BalasHapus
  32. Nama: Uci Afifah Dirgantara
    Kelas: XII IPS 3

    BalasHapus
  33. Nama; sephiana rizki Dewi Sartika
    Kelas;XII IPS
    No;30

    BalasHapus
  34. Nama : Defina Rahayu
    Kelas : XII IPS 3
    No : 11

    BalasHapus
  35. Nama: Ade wulandari
    Kelas: XII IPS 3

    BalasHapus
  36. Nama :Defina Rahayu
    Kelas:XII IPS 3
    No :11

    BalasHapus
  37. Nama:Tisa nur cahyanita
    Kelas:XII IPS 3
    No.abs:32

    BalasHapus
  38. Nama : Tinta Eka Romadhona
    Kelas : XII IPS 3
    No.absen : 31

    BalasHapus
  39. Nama :Rahma Yuliana
    Kelas:XII IPS 3
    NO.Abs:22

    BalasHapus
  40. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  41. Nama : Defi Latifah
    Kelas:XII IPS 3
    NO. absen:10

    BalasHapus
  42. Nama : Rio Cahyo W
    Kelas : XII IPS 3
    Absen : 25

    BalasHapus
  43. Nama: Yuyun Oktaviana
    Kelas: XII IPS 4

    BalasHapus
  44. Nama:Reni Anjarwati
    Kelas:XII IPS 3
    No.Absen:23

    BalasHapus
  45. Nama:Nur Oktaviyani
    Kelas:XII IPS 3
    No.Absen:19

    BalasHapus
  46. Nama : khumaira solihati
    Kelas : XII IPS 3
    No.Absen : 15

    BalasHapus
  47. Nama : Afinda Dewi Destanti
    Kelas :XII IPS 3
    NO.Absen:04

    BalasHapus
  48. Nama : Isna Hikmah R
    Kelas : XII Ips 4

    BalasHapus
  49. Nama : Dina Astriyani Januar
    Kelas : 12 IPS 4

    BalasHapus
  50. Nama: Elda Andreani
    Kelas: XII IPS 3
    No.absen: 12

    BalasHapus
  51. Nama: Naendri e.t
    Kelas 12 ips 3
    No.abs 17

    BalasHapus
  52. Nama:Eka afriyani
    Kelas:Xll Ips1
    No absen:09

    BalasHapus
  53. Nama : Fina Rohmatu Alifah
    Kelas :XII IPS 1
    Absen :13

    BalasHapus
  54. Nama :Elsa catur maylani
    Kelas :12 ips 1
    No.absen :10

    BalasHapus
  55. Nama:Melandika Lestari
    Kelas:12 IPS 1

    BalasHapus
  56. NAMA:RIZKI KURNIAWAN
    KELAS:12 IPS 1

    BalasHapus
  57. Nama : Ajeng Alisiya Putri
    Kelas : XI IPS 3

    BalasHapus
  58. Nama : Ajeng Alisiya Putri
    Kelas : XI IPS 3

    BalasHapus
  59. Nama : Rahma Dyah Sabilla
    Kleas : 12 IPS 1

    BalasHapus
  60. Nama : Meilia Nur Amaliah
    Kelas : 12 ips 1

    BalasHapus
  61. Nama : Yesinta Avilian
    Kelas : 12 ips 1

    BalasHapus
  62. Terimakasih telah mengikuti kelas sejarah.

    BalasHapus
  63. Nama : Adila Wanodyatama
    Kelas : 12 IPS 1

    BalasHapus
  64. Nama : Rahmawan
    Kelas : 12 ips 4

    BalasHapus
  65. Nama :Alfanza Ramadhani
    Kelas : 12 IPS 3

    BalasHapus
  66. Nama : Safalina
    Kelas : XII IPS 1

    BalasHapus
  67. Nama:Mayza Dwi A
    Kelas:XII IPS 1

    BalasHapus
  68. Nama: Nadiyah Nuur Fauziyah
    Kelas: XII IPS 4

    BalasHapus
  69. Nama: SriMulYaningsih
    Kelas: XII IPS 4

    BalasHapus
  70. Nama : Intan Puspita Hapsari
    Kelas : XII IPS 4

    BalasHapus