Senin, 10 Agustus 2020

SURAT DARI DIGUL UNTUK ARMADA HITAM DI AUSTRALIA (BAGIAN SATU)

 

SURAT DARI DIGUL UNTUK ARMADA HITAM DI AUSTRALIA

(Judul terinspirasi dari buku berjudul “ARMADA HITAM” Karya Rupert Lockwood)

Oleh : TOpan

 

Kapal uap Belanda Both pada pertengahan 1943 melintasi Selat Torres, sampai akhirnya dengan melintasi kepulauan karang Barrier Reef ia memasuki Pelabuhan Bowen, Queensland Utara, sebagai kapal pertama yang ditugaskan mendarat orang-orang hukuman di Australia Timur. Kabut kerahasiaan yang menutupi misi Both ke Australia itu segera tersingkap, sesudah tali-tali tambatan dilontarkan ke darat. Sepucuk surat dengan tulisan jatuh ke kaki seorang dari kaum buruh pinggir air di Bowen, yang sedang bertugas memuat batu bara dan perbekalan kapal. Surat itu menjelaskan bahwa yang termuat dalam kapal itu adalah lebih dari 500 orang Indonesia, lelaki, perempuan dan anak-anak, dari kamp penjara Belanda Tanah Merah yang seringkali dinamakan Boven Digul. Para tawanan politik Indonesia itu akan diinternir lagi di Australia. Tulisan itu dengan tegas mengisyaratkan bahwa bantuan orang Australia dalam membebaskan mereka akan disambut dengan baik (Lockwood, 1983 : 14). 

Buruh tepi air Bowen  yang memungut surat yang dilemparkan dari kapal Both itu cukup tergerak hatinya dan segera memberikan perhatian politik kepada derita manusia-manusia yang menjadi tahanan di atas kapal itu. Suratpun dibawa ke Brisbane dengan kurir, selanjutnya ke Sydney. Bahasa Inggris yang telah dipelajari oleh si orang Indonesia di Boven Digul menjadi bab pertama dari cerita tentang gerakan pemboikotan yang paling efektif dan paling penting dalam sejarah Australia (Lockwood, 1983 : 15). 

Di stasiun Liverpool para tawanan Tanah Merah melontarkan suratnya yang kedua, yang ditujukan kepada siapa saja orang Australia yang ada kemungkinan bersimpati kepada keadaan mereka yang buruk itu. Surat itu ditulis dengan potlot dan dilemparkan ke peron, jatuh dekat kaki seorang buruh kereta api. Yang menulis surat itu adalah seorang buruh kereta api yang namanya oleh orang-orang Australia yang kemudian hari  mengenalnya diucapkan Jo-Jo.  Surat Jo-Jo yang ditulis dalam bahasa Inggris itu dapatlah mengungkapkan bahwa para tawanan di atas kereta api itu adalah orang-orang Indonesia, tawanan dari Belanda kolonial. Surat menyatakan bahwa orang-orang yang ada diatas kereta api itu kebanyakan telah tinggal di Tanah Merah sejak tahun 1926 – 1927 ; ia menyatakan  juga bahwa banyak dari teman-temannya telah mati di Digul, dan sebagian  dari orang-orang yang akan diinternir kembali di Australia itu sudah sakit keras, kena malaria, tbc dan penyakit-penyakit lain. Penulis surat menyatakan tekadnya atas nama teman- teman setawanan untuk berjuang membebaskan diri dari penjara lanjutan di Australia dan untuk memperoleh bantuan pengobatan bagi mereka yang sakit (Lockwood, 1983 : 21). 

Dikenalinya orang-orang buangan Tanah Merah akibat dari surat yang dijatuhkan ke darat di Bowen dan kemudian akibat surat kedua yang dilontarkan kepada seorang  buruh kereta api Sydney dari kereta api tawanan yang melewati stasion Liverpool dalam perjalanan ke sebuah kamp tidak jauh dari sana. Inilah yang menjadi dasar dari front Indonesia Australia dalam melawan usaha Belanda untuk menghancurkan Republik, dan menandai terjadinya perpecahan pertama antara Belanda dan Australia di tingkat pemerintah. Orang-orang hukuman dari kapal Both itulah para pemrakarsa gerakan di pelabuhan-pelabuhan Australia dan di pangkalan -pangkalan Belanda yang telah menghalang-halangi kembalinya Belanda ke Hindia (Lockwood, 1983 : 15). 

            Anggota staf stasiun Liverpool yang memungut surat Jo-Jo itu adalah seorang anggota serikat buruh yang militan. Ketika selesai aplusannya hari itu, ia pun membawa surat itu kepada Nyonya Laura Gapp dari Liga Hak-Hak Sipil yang waktu itu merupakan organisasi kebebasan sipil yang terkemuka di Sydney. Kalau surat yang dilemparkan di dermaga Bowen itu merupakan peringatan awal, maka surat yang dilemparkan di stasiun Liverpool itulah yang segera meletikkan api aksi. Nyonya Gapp dan teman-teman serikat buruh mengikuti jejak orang-orang Tanah Merah itu ke kamp interniran Liverpool dengan bantuan beberapa orang tentara Australia (Lockwood, 1983 : 21). 

Mereka segera melihat bahwa orang-orang Indonesia itu sama sekali bukan teman orang Jepang : mereka pun mulai mengetahui riwayat Tanah Merah itu dan menyampaikan ceritanya kepada orang-orang serikat buruh. Nyonya Laura Gapp membenarkan bahwa prajurit Australia yang mengawal orang-orang Indonesia itu adalah orang-orang yang menyimpan rasa belas kasihan. Sekalipun memasukkan bungkusan berisi buah, kue, susu kaleng, gula-gula, dan pemberian lainnya untuk para tawanan itu dilarang, namun prajurit itu mengizinkan memasukkan obat-obatan untuk orang-orang  Indonesia yang menderita sakit (Lockwood, 1983 : 22). 

Segera setelah buruh kereta api dari Liverpool membawa surat yang di lemparkan oleh Jo-Jo dari kereta api di stasiun Liverpool itu kepada Nyonya Laura Gapp, maka nyonya itu pun berada di kantor Menteri Luar Negeri dan Jaksa Agung, Dr. Hebert Vere Evatt, di gedung Parlemen, Canberra. Inilah permulaan kerjasama Australia-Indonesia dalam melawan Belanda di tingkat politik tinggi. Menurut Nyonya Gapp, Dr. Evatt merasa gundah dan sedikit prehatin dengan terus diinternirnya orang-orang Indonesia yang diturunkan dari kapal Both, dan mencoba cuci tangan dari tanggung jawab atasnya. Dengan baik-baik Dr. Evatt mendorong Nyonya Gapp untuk memulai kampanye pembebasan orang-orang Indonesia, yang berarti membantunya memperoleh dukungan yang diperlukannya di dalam kabinet yang hati-hati itu untuk menantang Belanda dan memerintahkan pembebasan orang-orang itu dari Cowra dan Liverpool, kalau para penguasa Hindia Belanda menolak. Dr. Evatt telah mengajukan permintaan pribadi kepada para pemimpin Hindia Belanda untuk memberikan kebebasan kepada para interniran Tanah Merah itu (Lockwood, 1983 : 22). 

Bartlett Adamson (penyair dan penulis Australia) banyak memberikan bantuan. Ia telah membuat daftar bantuan dari badan-badan kebudayaan dan penulis-penulis terkemuka, dalam kampanye untuk membebaskan para tawanan Indonesia itu.  Bersama dengan Nyonya Gapp, Bartlett Adamson bikin ribut di Konsulat Belanda (Margaret Street, Sydney). Berikutnya Nyonya Gapp dan Bartlett Adamson mendobrak pintu klinik kesehatan yang dikelola oleh angkatan bersenjata pelarian Hindia Belanda di Kent Street, dekat jembatan pelabuhan Sydney. Kedua orang ini mendesak dokter di klinik tersebut agar berbuat sesuatu untuk para tawanan Tanah Merah yang sakit di Liverpool, yaitu membiarkan mereka datang ke klinik pengobatan, atau membebaskan mereka untuk datang ke rumah sakit Australia. Segera kemudian tekananpun menjadi sangat kuat, dan agitasi yang semakin memuncak itu menyebabkan Pemerintah Curtin mengajukan permintaan tegas  kepada para pemimpin Hindia Belanda (Lockwood, 1983 : 22-23).  

Dr. Hebert Vere Evatt membantu melonggarkan jalan masuk menuju orang-orang Indonesia dengan caranya sendiri. Ia telah menghilangkan pengawal Belanda dari kamp-kap dan menggantikannya dengan pengawasan yang seluruhnya Australia, yaitu segera sesudah Nyonya Gapp membuat laporan pertama tentang tawanan-tawanan yang sakit di Liverpool (Lockwood, 1983 : 23-24).  Para penderita sakit dipindahkan dari Liverpool ke rumah sakit Princess Juliana yang dikelola Belanda di Turramurra, Pantai Utara Sydney. Beberapa orang pasien dapat sembuh dengan cepat karena perawan kedokteran itu, dan lalu bekerja di berbagai bidang industri, konstruksi dan kantor, untuk membantu usaha perang anti Jepang (Lockwood, 1983 : 24). 

Pembebasan tawanan yang sakit dari Liverpool memperkuat tuntutan agar semua orang Indonesia dibebaskan segera. Kamp tawanan yang liar dan diterpa angin dingin dikecam habis oleh Dr. Evatt. Komisi Hindia Belanda yang bertindak sebagai pemerintah dalam pembuangan di Australia didesak untuk pembebaskan sisa dari para interniran di Liverpool. Pada tangggal 7 Desember 1943 kamp tawanan di blok D di Cowra dibuka. Para juru bicara orang buangan Tanah Merah  mengakui bahwa rasa merdeka yang pertama itu berhasil dimenangkan (Lockwood, 1983 : 24).   

Banyak eks Digulis yang menerima pekerjaan di bawah Belanda di Australia, mereka terima itu tidak hanya untuk membantu usaha perang melawan Jepang, melainkan juga untuk menyabot pendudukan kembali Hindia oleh Belanda, yang hendak dilancarkan dari pangkalan-pangkalan di Australia (Lockwood, 1983 : 24).  Para eks Digulis dengan demikian menangani pekerjaan–pekerjaan yang sifatnya produktif dalam mengetahui gerakan Belanda di udara, laut dan darat, dalam mengetahui kedudukan gudang-gudang mesiu dan seluk beluk muatan kapal. Mereka dapat mengetahui isi pesan-pesan  yang disampaikan kepada aparat Hindia Belanda di Australia oleh Komando Pasifik Barat Daya dari Jenderal Douglas MacArthur, oleh Pemerintah Belanda Kerajaan dalam Pembuangan di London, oleh departemen-departemen Pemerintah Australia di Canberra dan oleh lain-lain pengirim berita vital. Para eks Digulis ini pun dapat berkomunikasi dengan organisasi-organisasi Partai Buruh, dengan Dewan-Dewan Pekerjaan dan Perburuhan di Brisbane dan Queensland Utara serta dengan para pramuniaga toko milik serikat buruh (Lockwood, 1983 : 33). Orang-orang eks Digulis bekerja bahu membahu dengan orang-orang Indonesia yang telah datang di Australia bersama pemerintahan, angkatan bersenjata dan armada pelayaran Hindia Belanda, serta melakukan propaganda di antara mereka itu mengenai revolusi sesudah perang, menentang Belanda (Lockwood, 1983 : 34).  

Pertengahan tahun 1944 dibentuk secara setengah rahasia kelompok kelompok republican yang disebut Komite-Komite Kemerdekaan Indonesia yang mencakup anggota-anggota PKI, orang-orang Islam dan orang-orang  Indonesia yang tidak tergabung dalam sesuatu organisasi. Slogan yang dikumandangkannya adalah demi republik, dan bukan demi Sovyet atau kekuasaan sosialis, seperti di jaman tahun 1926. PKI di Australia mengajarkan bahwa kekuasaan yang datang adalah suatu “republik rakyat demokratis”. Inti struktur komando republik yang dipersiapkan untuk menggantikan kekuasaan Belanda atas orang Indonesia di Australia itu terbentuk pada pertengahan tahun 1944 (Lockwood, 1983 : 35).  

Melalui percabangan dan badan-badan kontaknya yang tersebar luas, CPA telah memberikan bantuan khusus kepada Komite-Komite Kemerdekaan Indonesia dalam melancarkan komunikasi antara berbagai kelompok orang Indonesia di Australia. Cabang-cabang CPA bertindak selaku kantor pos bagi orang-orang Indonesia dengan melangsungkan komunikasi mereka per tangan, biasanya melalui orang-orang revolusioner di kereta api, dinas transport maritim dan angkatan bersenjata (Lockwood, 1983 : 35).  

Dengan upah yang berstandar Australia, orang-orang Indonesia  dapat memperoleh pesawat-pesawat penerima radio atau komponen-komponennya untuk dirakit. Mereka secara teratur memonitor stasiun-stasiun radio di Hindia yang diduduki. Penolakan untuk mendapatkan perlengkapan dari negeri Belanda yang waktu itu berada dalam cengkraman Nazi telah memaksa Pemerintah NEI untuk betul-betul mengandalkan diri kepada orang Indonesia dalam hal pos-pos administrasi dan teknik yang sangat penting. Dengan demikian di permudahlah kebocoran keterangan rahasia kepada kekuatan republik Indonesia di Australia. Dengan adanya para simpatisan republik disemua departemen Belanda di Australia, dan dengan adanya beberapa orang Belanda yang suka bekerjasama dan bersedia membantu, maka Komite-Komite Kemerdekaan seringkali mengetahui isi pesan-pesan dari Pemerintah Belanda Kerajaan di London, dan kemudian juga di Negeri Belanda yang sudah direbut kembali, sebelum diketahui oleh Pemerintah NEI, juga oleh para komandan angkatan bersenjata ataupun dinas-dinas diplomatik dan perbekalan yang ada di Australia (Lockwood, 1983 : 36).  

Bersambung . . . . . . . .

Sumber

Lockwood, Rupert.1983. ARMADA HITAM. Jakarta : Gunung Agung

 

KEHIDUPAN MANUSIA DALAM PERUBAHAN DAN KEBERLANJUTAN

 KEHIDUPAN MANUSIA DALAM PERUBAHAN DAN KEBERLANJUTAN

Peserta didik kelas Sepuluh SMA Negeri 1 Kutasari untuk dapat mencermati  tayangan berikut ini. jangan lupa meninggalkan jejak dengan menuliskan nama dan kelas pada kolom komentar. Bila ada pertanyaan dipersilakan untuk menuliskan di kolom komentar.

Terima kasih.

 



Senin, 27 Juli 2020

VIDEO KEHIDUPAN MANUSIA DALAM RUANG DAN WAKTU


cermati video berikut. pahami dengan cermat. kalau sudah melihat dan mencermati silakan tinggalkan jejak dengan menuliskan nama dan kelas di kolom komentar. terimakasih.

Rabu, 15 Juli 2020

RESPON DUNIA INTERNASIONAL TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA


RESPON DUNIA INTERNASIONAL TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
Oleh : Topan

Pengakuan atas kemerdekaan dari sebuah negara adalah salah satu faktor penting dari sebuah negara. Begitupun Indonesia pada sejarah awal kemerdekaan. Pengakuan negara-negara anggota Liga Arab terhadap eksistensi Republik Indonesia tidak dapat begitu  saja dilupakan oleh bangsa dan negara Indonesia. Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 menerima suatu resolusi yang berisikan pengakuan de jure atas RI. Mengingat pada waktu itu jalur transportasi lintas negara dikuasai oleh Inggris dan Belanda, kedua negara ini melalui perwakilan diplomatik dan konsulernya sangat hati-hati dalam memberikan visa bagi perjalanan diplomatik. Oleh karena itu untuk menyampaikan sikap Liga Arab tersebut penuh hambatan dan resiko. Perlulah utusan yang berani menembus blokade. Liga Arab mengutus Mohammad Abdul Mun’im, seorang konsul Jenderal Mesir di India. Mun’im adalah utusan khusus Liga Arab untuk menyampaikan pengakuan organisasi internasional regional tersebut kepada Republik Indonesia (Supriyanto, 2006 : 172-173).
Di Kairo, Mekkah dan Baghdad telah beridiri Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Di Mesir sendiri berdiri pula satu panitia khusus yang diberi nama Panitia Pembela Indonesia yang didukung oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan Arab (Jenderal Saleh Harb Pasya dan Abdul Rahman Azzam Passya) yang berada di Kairo (Supriyanto, 2006 : 173).  Pada bulan Oktober 1945 PPKI dari Kairo, Mekkah, dan Baghdad menyelenggarakan Konferensi Kerja di Mekkah. Konferensi ini menerima rancangan dari panitia Kairo yaitu : (1) memfokuskan perjuangan menentang campur tangan militer Inggeris di Indonesia dan Belanda di Indonesia. (2) membebaskan warga Indonesia di luar negeri dari kewarganegaraan Belanda. Apabila warga negara Indonesia di luar negeri telah dapat secara de facto membebaskan diri dari kewarganegaraan Belanda. (3) Menjadikan Kairo sebagai pusat PPKI di Timur Tengah. Salah satu hasil dari perjuangan tersebut adalah diakuinya kewarganegaraan RI oleh pemerintah-pemerintah setempat di Timur Tengah. Hal ini berarti bahwa pemerintah setempat mengakui de facto kemerdekaan Republik Indonesia (Supriyanto, 2006 : 173-174).
Kedutaan Belanda di Mesir menuntut warga negara Indonesia menandatangani pengakuan pemerintahan Hindia Belanda dan menuntut supaya memperbaharui  paspor mereka. Hal ini ditolak oleh komunitas Indonesia di Timur Tengah dengan membakar paspor yang dikeluarkan Belanda (Supriyanto, 2006 : 174). Pemerintah Mesir sendiri menguntungkan komunitas Indonesia. mesir menganggap warga Indonesia di Mesir tidak ada lagi hubungan dengan keduataan Belanda. Jadi Mesir hanya berhubungan dengan PPKI. Sejak tanggal 23 Maret 1946 Mesir telah mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto. Hal ini diikuti oleh pemerintah Arab lainnya. PPKI di Timur Tengah dianggap sebagai Perwakilan sementara RI. Tiga puluh ton beras yang dikirim ke Arab Saudi untuk warga RI disana, yang tadinya diberikan melalui kedutaaan Belanda, dialihkan kepada PPKI di Kairo. Demikian pula dalam melakukan perjalanan, warga RI cukup membawa “Surat Keterangan” yang ditandatangai oleh Ketua Panitia setempat, termasuk mereka yang pulang ke Indonesia sebelum pengakuan de jure oleh Mesir dan negara-negara Arab lainnya (Supriyanto, 2006 : 174).
Selanjutnya ketika perutusan diplomatik RI pertama yang dikirim ke Den Haag singgah di Kairo, mereka bertemu dengan menlu Luthfi Sayed dan Raja Farouk yang menyampaikan harapan harapan beliau terhadap perjuangan rakyat Indonesia. Pada ulang tahun pertama Proklamasi  Indonesia, radio Kairo ikut merayakannya dengan kata pengantar yang simpatik. Radio ini menyiarkan lagu lagu Indonesia. Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dalam bahasa Indonesia dan Arab disiarkan sebagai pembuka dan penutup acara radio tersebut. Selain itu juga disiarkan sandiwara radio dengan judul kemerdekaan Indonesia (Supriyanto, 2006 : 174). Pada tanggal 18 November 1946 diselenggarakanlah sidang menteri luar negeri Liga Arab yang membahas pengakuan terhadap RI. Sidang ini mengambil keputusan untuk mengamanatkan kepada negara-negara Arab anggotanya supaya mengakui RI sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Selanjutnya dengan surat No. 3128 tanggal 28 November 1946 Sekjen Liga Arab menyampaikan keputusan itu kepada pemerintah RI. Pada waktu yang sama keputusan ini disampaikan pula kepada kedutaan Belanda di Kairo (Supriyanto, 2006 : 175).
Selanjutnya sekjen Liga Arab mengirimkan satu delegasi ke Indonesia. Namun Inggris  yang berkuasa tidak memberikan visa ke Yogyakarta. Dengan persetujuan menlu Mesir, sekjen Liga Arab menugaskan dengan sangat rahasia kepada Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay, supaya pergi ke Indonesia sebagai turis untuk menyampaikan secara langsung keputusan tersebut dan dalam satu harapan baik Raja Faruk kepada Presiden Soekarno (Supriyanto, 2006 : 175). Atas bantuan Miss Ktut Tantri, Muhammad Abdul Mun’im berhasil mencarter pesawat terbang dari Singapura yang membawa mereka menerobos blokade Belanda langsung menuju Yogyakarta. Blokade Sekutu berhasil di terobos. Radio Republik Indonesia Yogyakarta menyiarkan pada Kamis 13 Maret 1947 “telah sampai di Yogyakarta dengan pesawat khusus Tuan Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay dan Utusan Istimewa Liga Arab (Supriyanto, 2006 : 175-176).
Abdul Mun’im menghadap Presiden Soekarno pada hari Sabtu, 15 Maret 1947 untuk menyapaikan pesan-pesan dari Liga Arab. Beliau menyampaikan keputusan Sidang Dewan Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 yang berisi anjuran agar negara-negara anggotanya mengakui RI sebagai negara merdeka dan berdaulat. Dengan kejadian ini, dalam sejarah diplomatik RI dapat ditemukan dua peristiwa penting. (1) Perutusan Mesir dengan menghadapi bahaya, menyampaikan pengakuan negaranya dan pengakuan Liga Arab kepada RI. (2) Untuk pertama kalinya RI menyambut kedatangan perutusan negara asing sekaligus perutusan organisasi internasional. Selanjutnya beliau mendesak agar RI mengirim delegasi ke Mesir, sekaligus menghadiri Inter Asian Conference di New Delhi. Sjahrir memutuskan untuk mengirim delegasi RI ke Mesir dan menerima undangan dari Nehru. Pengiriman perwakilan ke New Delhi memberikan manfaat yang sangat besar. Dapat diperkirakan bahwa betapa pentingnya kedudukan India kelak terhadap perjuangan RI. Konferensi New Delhi ini akan memberikan kesempatan untuk mengatur hubungan dengan negara-negara tetangga seperti Birma, Thailand, Tiongkok dll. Haji Agus Salim pimpinan delegasi RI ikut dalam pesawat rombongan Liga Arab ke Singapura. Pada saat di Maguwo sudah hadir Mr. S. Muwalladi, kepala bagian Asia Tenggara di Deplu yang telah bersedia memberikan sertifikat pengganti paspor (certificate en lieu du passport) kepada tiap-tiap anggota delegasi RI. Untuk mempercepat pekerjaannya, masing-masing anggota diplomasi mengisi sendiri surat keterangan tersebut. Jumlah delegasi adalah 24 orang. Saat pesawat tersebut tiba di Singapura, dilapangan terbang kota itu delegasi RI disambut oleh masyarakat Indonesia dengan meriah dan antusias. Mereka melambai-lambaikan bendera- bendera kecil merah putih ketika pesawat tiba. Kemudian delegasi mencharter pesawat terbang lain untuk meneruskan ke New Delhi (Supriyanto, 2006 : 177).
Setelah mengadakan persiapan di Bombay, delegasi RI meneruskan perjalanan ke Mesir, singgah dahulu di pelabuhan udara Lydda Palestina. Dari sini penerbangan dilanjutkan ke Mesir. Fasilitas sudah dipersiapkan oleh mahasiswa Indonesia karena Moh. Abdul Mun’im sudah berkoordinasi dengan mereka sebelumnya. Setiba di Mesir, delegasi RI diterima sebagai tamu Liga Arab selama empat bulan (Supriyanto, 2006 : 177). Kegiatan selama delegasi RI di Mesir adalah (1) Mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa. Haji Agus Salim menyampaikan bahwa kegiatan politik para mahasiswa di Timur Tengah telah melapangkan jalan formal perjuangan diplomatik pemerintah RI. (2) Delegasi RI mengunjungi Istana Abidin guna mencatatkan  nama mereka dalam daftar penghormatan kerajaan, sebagai penghormatan kepada Raja Farouk. Bagi perjuangan diplomatik RI, hal tersebut dilakukan sebagai penghargaan kepada raja Farouk yang anti Inggeris telah mendorong pemerintah Mesir lebih tegas mendukung RI mempertahakan kemerdekaan dan kedaulatannya. Dukungan ini dikuti oleh negara-negara Arab lainnya. Bahkan pemerintah Mesir memberikan pengakuan de facto kepada PPKI sebagai perwakilan RI sementara, menanti perwakilan RI resmi didirikan. (3) Delegasi RI mengunjugi Abdulrahman Azzam Pasya, sekjen liga arab sebagai tuan rumah. Disini Abdulrahman Azzam Pasya menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia telah berhasil menyampaikan kepentingan RI kepada negara-negara Arab. (4) Delegasi RI melakukan kunjungan ke perdana Menteri/Menteri luar  Mesir di kemenlu Mesir, Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya. Kunjungan ini menyampaikan maksud untuk hubungan diplomatik antara RI  dan negara- negara Arab. Pada tanggal 10 Juni 1947 ditandatanganilah perjanjian persahabatan hubungan diplomatik dan konsuler dan perjanjian perdagangan antara RI dan Mesir. Kemudian Haji Agus Salim melanjutkan tugasnya ke Suriah (Damaskus 6 Juli1947), Irak (Bagdad pada 16 Juli 1947) dan Lebanon (Supriyanto, 2006 : 177-179).
Melalui surat No. 155/L 7 Agustus 1947 Haji Agus Salim menyampaikan kepada kerajaan Mesir keberlangsungan tugas delegasi RI untuk negara-negara Arab sebagai berikut. Mohammad Rasyidi sebagai Charge d’Affaires, M. Nazir Pamoncak sebagai Counsellor, Moh. Zein Hassan sebagai Sekretaris I, dan Mansur Abu Makarim sebagai Sekretaris II. Mereka menjadi staf kedutaan RI pada tingkat Charge d’affaires di Kairo. Ini merupakan kedutaan RI pertama dibuka diluar negeri semenjak Proklamasi. Staf ini juga merangkap sebagai Misi Diplomatik RI Tetap untuk negara-negara anggota Liga Arab (Supriyanto, 2006 : 179).
Saat Arab Saudi mengakui RI pada 21 November 1947 telah disepakati pula dibukanya hubungan diplomatik antara kedua negara, namun pelaksanaanya ditangguhkan. Komunitas Indonesia disana mendesak supaya pembukaan perwakilan dipercepat. Ketika Moh. Rasyidi, wakil RI bagi negara-negara Arab datang ke Arab Saudi dengan misi haji RI pertama pada 17 Oktober 1948 telah diadakan rapat antara Moh. Rasyidi (wakil RI), Misi Haji RI, dan para pemimimpin komunitas Indonesia di sana. Atas desakan para pemimpin masyarkaat itu, telah disetujui pembukaan perwakilan RI di Jeddah dengan Ismail Banda sebagai kepala Perwakilan RI (Supriyanto, 2006 : 179).
Selain Mesir India dan Australia ikut membela kepentingan Indonesia. Bagaimana reaksi dunia luar atas tindakan Belanda yang memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan  pertikaiannya dengan pihak RI ? Yang tampil sebagai pembela utama RI ialah India dan Australia. India membela RI karena solidaritas Asia terutama sesudah Konferensi Inter Asia di New Delhi (Maret 1947) di mana RI ikut serta. Lagi pula hubungan RI India baik sekali antara lain karena politik beras Syahrir (antara 1946 -1947 Jawa mampu menyediakan beras 700.000 ton untuk disumbangkan kepada India yang sedang dilanda bahaya kelaparan), dan ketegasannya dalam membela semangat piagam PBB. Ia berpegang pada pasal 34 yaitu yang menyebut tentang pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia (Moedjanto, 1988 : 16).
Sedang Australia mendasarkan pembelaannya atas pasal 39 yang menyebut tentang adanya ancaman terhadap perdamaian dunia. Disamping itu Partai Buruh Australia yang sedang berkuasa memang pada dasarnya bersimpati kepada perjuangan  kemerdekaan. Berdasarkan hal- hal itu India dan Australia lalu mengajukan resolusi bersama ke DK PBB agar Belanda dan RI segera menghentikan  permusuhan dan menyerahkan perselisian mereka kepada komisi arbitrase sesuai dengan pasal 17 persetujuan Linggajati. Resolusi bersama ini diajukan ke DK PBB pada 30 Juli 1947 (Moedjanto, 1988 : 16).
Vatikan sebagai salah pihak yang ikut mendukung kemerdekaan Indonesia. Terdapat peran aktif tokoh bernama Soegija dalam perjuangan pencarian dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Berkaitan dengan pemindahan pusat pemerintahan ke Yogyakarta, maka Soegija yang pada saat itu telah menjadi seorang uskup memiliki niatan untuk ikut memindahkan Kantor Pusat Vikariat Apostolik Semarang ke Yogyakarta. Pemindahan tersebut dilakukan dengan alasan agar Soegija bisa memantau secara langsung situasi dan kondisi pemerintah Indonesia, serta dapat secara langsung berkomunikasi dengan para pemimmpin negara.  Hal ini dapat direalisasikan pada 13 Februari 1947, Presiden Soekarno menyerukan gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda. Sehingga ketika situsai aman tersebut, Soegija segera bergegas untuk berangkat ke Yogyakarta (Pratiwi, 2015 : 51). Pada tanggal 18 Januari 1947 Soegija melakukan usaha diplomasi dengan mengirim surat kepada ketua kongregasi propaganda fide yang berada di Vatikan. Dalam surat tersebut ada tiga pokok masalah yang dituliskan Soegija : (1) pengalaman sikap militer Jepang terhadap karya misi di Indonesia, (2) situasi aktual yang berkaitan dengan usaha diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menghadapi pemerintah Belanda. (3) terkait dengan rencana penunjukkan nuntius untuk Indonesia. Berkaitan dengan point ketiga, Soegija memberikan masukan kepada pihak Vatikan agar nuntius yang akan ditunjuk bukan merupakan kebangsaan Amerika atau Belanda. Mengingat nuntius adalah wakil Paus sehingga diharapkan nuntius yang ditunjuk tidak terlibat dalam kancah politik. Seperti mempertimbangkan masukan dari Soegija, maka pada akhirnya pihak Vatikan menunjuk Mgr. George de Jonge d’Ardoya asal Finlandia menjadi nuntius untuk Indonesia (Pratiwi, 2015 : 52).
Pada catatan harian Soegija tertanggal 21 Desember 1948, Soegija menulis jika mendapatkan kabar bahwa beberapa pemimpin negara berhasil ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Secara khusus keterlibatan Soegija dalam diplomasi berkait dengan peristiwa Agresi Militer Belanda II tersebut adalah ketika tulisan Soegija dimuat pada surat kabar The Commonweal terbitan Amerika, dalam tulisan tersebut Soegija menuliskan berbagai serangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda dan dampak dari serangan tersebut bagi kehidupan rakyat Indonesia terutama bagi anak-anak seperti kemiskinan dan pembodohan. Tulisan Soegija pada surat kabar tersebut mendapatkan reaksi positif dari masyarkat internasional. Terbukti Soegija mendapatkan kiriman bantuan berupa buku-buku dan majalah dari berbagai pihak yang ditujukan kepada anak-anak Indonesia (Pratiwi, 2015 : 58). Berselang setelah dua bulan setelah dikirimnya surat balasan dari Soegija kepada pihak Vatikan, maka pada 16 Maret 1947 Vatikan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan baik secara de facto maupun de jure Indonesia sebagai bangsa dan negara. Selain itu Vatikan juga ikut menghimbau kepada pemerintah Belanda untuk menghentikan aksi polisionilnya di Indonesia. Vatikan merupakan negara yang cukup berpengaruh terhadap politik dunia, terutama Amerika dan Inggris. Hal itu dikarenanakna dalam PBB nuntius Vatikan merupakan ketua yang membawahi seluruh duta besar negara-negara Barat.  Oleh karena itu dengan Vatikan mendukung kemerdekaan Indonesia,  dianggap dapat mempengaruhi suara dari negara-negara Eropa lainnya agar kemudian ikut mendukung kemerdekaan Indonesesia (Pratiwi, 2015 : 71).




Sumber
Moedjanto, G. 1988. INDONESIA ABAD KE – 20 2 DARI PERANG KEMERDEKAAN PERTAMA SAMPAI PELITA III. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Supriyanto, Agustinus. 2006.  Peran Konsul Jenderal Mesir di India Tahun 1947 Bagi Status Internasional Republik Indonesia.   Yogyakarta : Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada
Dalam Jurnal Ilmu Hukum Vol. 9, No. 2, September 2006

Pratiwi, Magdalena Dian. 2015. PERANAN Mgr. ALBERTUS SOEGIJAPRANATA DALAM DIPLOMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (1946 – 1949). Yogyakarta : UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA  
dikutip dari https://repository.usd.ac.id/1327/2/104314009_full.pdf diakses hari Rabu tanggal 15 Juli 2020 pada pukul 10.08 WIB.

Senin, 01 Juni 2020

METODE PENELITIAN SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO


METODE PENELITIAN SEJARAH MENURUT KUNTOWIJOYO
Oleh  : Topan


Penelitian sejarah mempunyai lima tahap, yaitu (1) pemeilihan topic, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi : analisis dan sintesis, dan (5) penulisan (Kuntowijoyo, 2013 : 69).

PEMILIHAN TOPIK
Hampir semua masalah merupakan hal baru yang belum ditulis orang. Tantangan lain bahwa anda harus menulis sejarah bukan sosiologi, antropologi, atau politik. Oleh karena itu topikpun harus topik sejarah, yang dapat diteliti sejarahnya. Topik yang “workable”(bisa diterapkan) dapat dikerjakan dalam waktu yang tersedia. Tidak terlalu luas sehingga melampaui waktu. Kalau anda harus menulis skripsi S-1, jangan memilih topik seolah-olah anda mau menulis disertasi. Sebaliknya, kalau anda harus  menulis skripsi, jangan merencanakan menulis paper, sebab topik yang hanya cocok untuk sebuah paper jangan diolor-olor untuk sebuah skripsi. Topik sebaiknya dipilih berdasarkan : (1) kedekatan emosional dan (2) kedekatan intelektual. Dua syarat  itu, subjektif dan objektif, sangat penting, karena orang hanya akan bekerja dengan baik kalau dia senang dan mampu. Setelah topik ditentukan biasanya kita membuat (3) rencana penelitian (Kuntowijoyo, 2013 : 70).
Kedekatan Emosional
Kalau kebetulan anda dari desa, dan ingin berbakti pada desa tempat kita lahir, menulis tentang desa sendiri adalah paling strategis. Diupayakan anda punya hubungan baik dengan orang dalam supaya mudah mendapat keterangan lisan serta arsip yang dimiliki oleh desa. Yang perlu diyakini adalah tulisan itu berharga. Mungkin yang anda tulis adalah sebuah desa, namun demikian desa yang berlokasi begitu kecil ternyata cukup banyak mempunyai persoalan. Ada masalah pertanahan, ekonomi, politik, demografi, mobilitas sosial, kriminalitas, dan sebagainya (Kuntowijoyo, 2013 : 70-71).
Dari batasan geografis maka muncul pertanyaan “where”, yaitu daerah mana yang menjadi objek penelitian. Kemudian kita harus menetapkan batas waktu dalam artian sumber tertulis maupun lisan yang masih tersedia. Ini berarti kita memunculkan pertanyaan “When”. Selanjutnya siapa saja yang terlibat di dalamnya, itu pertanyaan tentang “who”. Kemudian perlu diketahui apa yang dikerjakan oleh setiap orang, ini pertanyaan “what”. Dapat pula ditanyakan tentang motivasi dari tiap-tiap perbuatan, ini pertanyaan tentang “why”. Kemudian dapat ditanyakan secara umum, apa yang terjadi dalam permalahan dan bagaimana terjadi. Ini berarti kita harus membagi bagi peristiwa, periodisasi, ke dalam babakan waktu. Nah proses kearah itulah yang jadi pertanyaan “how”, bagaimana terjadinya (Kuntowijoyo, 2013 : 71).
Kedekatan Intelektual
Apabila seorang peneliti tertarik dengan masalah pedesaan pasti buku apa saja yang berkaitan dengan rural, petani, tanah, geografi pedesaan , ekonomi pedesaan, dan sebagainya sudah di bacanya. Dengan demikian dia dapat menempatkan desanya dalam “peta” persoalan pedesaan (Kuntowijoyo, 2013 : 71). Bahwa lain dari seseorang yang terlibat secara emosional ialah pertimbangan intelektualnya akan dipengaruhi oleh emosi sehingga sejarah berubah menjadi pengadilan. Padahal, sejarah adalah ilmu empiris yang harus menghindari penilaian subjektif. Kedekatan emosional itu harus diakui secara jujur supaya orang dapat membuka jarak  (Kuntowijoyo, 2013 : 72).


Rencana Penelitian
Biasanya kita harus membuat perencanaan yang berisi : (1) permasalahan, (2) historiografi, (3) sumber sejarah, dan (4) garis besar. Masih ada lagi yaitu pendanaan dan skedul waktu.
Dalam permasalahan perlu dikemukakan subject matter dan tujuan penelitian, luasan dan batas penelitian dalam tempat dan wakktu, serta teori dan konsep yang dipakai.
Dalam historiografi, perlu dikemukakan sejarah penulisan dalam bidang yang akan diteliti. Kalau kita mengambil soal tanah, maka penelitian sejarah tentang tanah harus kita review. Dengan review, kita memberitahukan apa kekurangan para peneliti terdahulu dan apa yang masih perlu diteliti.  Dalam hal penelitian kita sangat orisinal, dan tidak ada historiografinya, kadang kadang historiografi diganti dengan bibliografi. Isinya sama dengan historiografi (Kuntowijoyo, 2013 : 72).
Sebelum ke lapangan orang harus tahu sumber sejarah yang akan dicari, bagimana mencari, dan mana dicari. Ini bisa dilakukan dengan cara membaca sumber tertulis ataupun dengan melalui sumber lisan kepada orang-orang yang bersangkutan (Kuntowijoyo, 2013 : 72-73).
Tentang garis besar, harus segera tampak. Lebih baik garis besar itu terurai sehingga dengan mudah orang membacanya. Yang perlu diingat bahwa garis besar itu dapat berubah. Garis besar sementara itu akan sangat berguna dalam proses penelitian, sebab setiap data dapat kita masukkan dalam bab-babnya (Kuntowijoyo, 2013 : 73).

PENGUMPULAN SUMBER
Sumber (sumber sejarah disebut juga data sejarah; data - dari bahasa Inggris datum bentuk tunggal atau data bentuk jamak, bahasa latin datum berarti “pemberian”) yang dikumpulkan harus sesuai dengan jenis sejarah yang akan ditulis. Sumber itu, menurut bahannya dapat dibagi menjadi dua yaitu tertulis dan tidak tertulis, atau dokumen dan artifact (artifact). Selain itu, karena kita akan menulis hal-hal baru, pastilah ingatan orang akan peristiwa-peristiwa masih dapat direkam. Apabila kita meneliti masalah-masalah sekarang, sumber lisan itu bukan saja ada, tetapi harus dicari dengan sejarah lisan. Demikian juga, karena yang akan kita teliti kadang terkait dengan angka-angka maka sumber yan berupa angka-anka pasti tersedia. Dengan kata lain sejarah kuantitatif sangat perlu. Kita hanya akan membicarakan sumber primer, meskipun dalam kelangkaannya, sumber-sumber tertulis yang berupa koran, buku-buku, dan penerbitan lain amat menentukan (Kuntowijoyo, 2013 : 73).
Dokumen Tertulis
Kalau kita sudah menentukan subject matter yang akan ditulis dan lokasinya, kemudian luasan waktu. Ambil satu permulaan waktu dan tentukan waktu akhir untuk batas waktunya. Hal ini dengan harapan kita bisa melihat perubahan yang terjadi dari generasi ke generasi. Dengan harapan itulah kita mulai sumber sejarah. Dalam tingkat ini, sebelum memulai keabsahan dari interpretasi maka masih kita sebut dengan data sejarah, belum menjadi fakta sejarah. Dokumen (dari bahasa latin “docere” yang berarti “mengajar”) tertulis dapat berupa surat, notulen rapat, kontrak kerja, bon-bon, dan sebagainya. Surat-surat dapat berupa surat pribadi, surat dinas kepada pribadi dan sebaliknya, serta surat antar dinas. Surat semacam itu dapat ditemukan di lemari pribadi atau dinas. Notulen rapat dinas dapat kita temukan di kantor, dan notulen rapat ormas dapat kita temukan di kantor ormas. Adapun kontrak kerja dan bon-bon sama saja tempatnya, di pribadi, perusahaan ataupun dinas. Tetapi kita khawatir bahwa dokumen tertulis sudah tidak ada, sehingga kita hanya tergantung kepada artifact, sumber lisan dan sumber kuantitatif (Kuntowijoyo, 2013 : 74).

Artifact
Artifact dapat berupa foto-foto, bangunan, atau alat-alat. Foto sangat mungkin dimiliki oleh keluarga. Foto dari setiap generasi akan menunjukkan perubahan sosial antar keluarga dan antar generasi. Latar belakang foto akan menunjukkan gaya hidup tiap keluarga. Demikian juga data lain tentang perabot rumah, pakaian, kendaraan, “klangenan”, mungkin terungkap lewat foto. Yang masih besar kemungkinan adanya adalah bangunan. Sedapat mungkin temukan bangunan yang masih asli (Kuntowijoyo, 2013 : 74-75).
Menurut urutan penyampaiannya, sumber itu dapat dibagi ke dalam sumber primer dan sekunder. Sumber sejarah disebut primer bila disampaikan oleh saksi mata. Misalnya catatan rapat, daftar anggota organisasi, dan arsip-arsip laporan seorang asisten residen abad ke 19. Seorang sejarawan harus berusaha mendapatkan sumber primer. Apa yang disebut sumber primer oleh sejarawan misalnya arsip-arsip kelurahan, sering disebut sebagai sumber sekunder dalam penelitian ilmu sosial. Hal ini terjadi, karena yang dianggap sumber primer dalam ilmu sosial ialah wawancara langsung dengan responden. Adapun dalam ilmu sejarah, sumber sekunder ialah yang disampaikan oleh bukan saksi mata. Misalnya kebanyakan buku hanya mengandung sumber sekunder.  Sejarawan tidak mempersoalkan sumber primer atau sekunder kalau hanya terdapat satu sumber. Misalnya, data sejarah tentang jual beli tanah atau jumlah murid sekolah pada abad ke 19, sejarah hanya tergantung pada laporan tercetak. Sejarawan wajib menuliskan darimana data itu diperoleh, baik primer maupun sekunder (Kuntowijoyo, 2013 : 75).
Sumber Lisan
Bila terjadi perubahan secara fisik perlulah dicermati perubahan apa yang terjadi. Ini lebih baik ditanyakan sebab apa yang kita lihat belum tentu mewakilinya. Sebelum kita bertanya sesuatu ada baiknya kita sudah banyak membaca (Kuntowijoyo, 2013 : 75). Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan interviu. Pertama, harus dikuasai sungguh-sungguh bagaimana mengoperasikan tape recorder. Ada cara-cara tertentu bagaimana supaya suara-suara diluar tidak terdengar, bagaimana supaya suara lebih keras atau lebih lunak, bagaimana interviu di dalam atau diluar, bagaimana mengatur supaya tape tidak mengganggu, bagimana mengatur intervieu bersama sama. Ada interviu tunggal dan ada interviu simultan; soal keluarga biasanya suami istri menemui pewawancara bersama-sama atau beberapa keluarga menjadi satu. Akan sangat memalukan, kalau sekedar mengoperasikan tape saja kita tidak bisa. Kedua, sebelum pergi, belajarlah sebanyak-banyaknya. Itu akan membuat kita yakin diri. Jangan terlalu banyak bertanya, tetapi juga jangan kehilangan bahan pertanyaan. Jangan ada kesan memaksa, kita harus siap menjadi pendengar. Kita harus menyiapkan pertanyaan terurai, setidaknya ada daftar pertanyaan berupa check list. Sesampai di rumah, tape harus kita dengarkan kembali dan kita transkrip, lalu kita mintakan tanda tangan. Untuk mengormati hak interviu, kita harus menanyakan  apa semuanya bisa didengar orang. Ada juga interviu yang bersifat “rahasia”, baru boleh dibuka setelah dia meninggal, interviu semacam itu, yang sifatnya confidential, biasanya kita simpan di tempat aman, misalnya arsip nasional. Masalah hukum juga penting ditetahui pewawancara (Kuntowijoyo, 2013 : 76).
Sumber Kuantitatif
Sumber kuantitatif, baik berupa pajak, akunting, atau catatan lain. Yang perlu diyakinkan adalah keingintahuan sejarawan itu aman, semata-mata untuk kepentingan ilmu. Angka-angka yang dikira urusan pribadi itu, ternyata mempunyai makna sosial, social significance, yang andakata tidak ada sejarawan pastilah hanya berupa catatan-catatan pribadi. Untuk mengetahui perkembangan kekayaan antargenerasi, sumbangan kepada lingkungan sosial, keagamaan, politik, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya, perlu diketahui angka-angka itu (Kuntowijoyo, 2013 : 76-77).

VERIFIKASI
Setelah kita mengetahui secara persis topik kita dan sumber sudah kita kumpulkan, tahap yang berikutnya ialah verifikasi, atau kritik sejarah, atau keabsahan sumber. Verifikasi itu ada dua macam : autentisitas, atau keaslian sumber atau kritik ekstern, dan kredibilitas, atau kebiasaan dipercayai atau kritik intern (Kuntowijoyo, 2013 : 77).
Autentisitas
Saat kita menemukan surat, notulen rapat dan daftar tertentu. Kertanya sudah menguning, baik surat, notulen atau daftar. Baru menemukan dokumen saja sudah suatu prestasi, rasanya tidak sampai hati untuk tidak memercayainya. Untuk membuktikan keaslian sumber, rasanya terlalu mengada-ada, sebab untuk apa orang memalsukan dokumen ? surat, notulen, dan daftar itu harus kita teliti : kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasannya, kalimatnya, ungkapannya, kata katanya, hurufnya, dan semua penampilan luarnya, guna mengetahui autentisitasnya. Selain pada dokumen tertulis, juga pada artifact, sumber lisan, dan sumber kuantitatif, kita harus membuktikan keasliannya (Kuntowijoyo, 2013 : 77).
Kredibilitas
Setelah kita tentukan bahwa dokumen itu autentik, kita akan meneliti apakah dokumen itu bisa dipercaya. Kita contohkan kita akan meneliti surat pengangkatan sebagai ketua koperasi batik. Harus kita buktikan apakah benar Sarekat Islam punya  koperasi batik, tahun itu ketua koperasinya lowong, orang itu adalah anggota Sarekat Islam, dan kredibilitas foto – misalnya foto ucapan selamat dalam upacara penyumpahan – itu akan tampak dalam pertanyaan, apakah waktu itu sudah lazim ada ucapan selamat atas pengangkatan seseorang ? kalau semuanya positif, tidak ada cara lain kecuali mengakui bahwa dokumen itu credible (Kuntowijoyo, 2013 : 77-78).

INTERPRETASI
Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai biang subjektivitas. Benar tapi juga salah. Benar, karena tanpa penafsiran sejarawan, data tidak bisa berbicara. Sejarawan yang jujur akan mencantumkan data dan keterangan dari mana data itu diperoleh. Orang lain dapat melihat kembali dan menafsirkan ulang. Itulah sebabnya, subjektivitas penulisan sejarah diakui, tetapi untuk dihindari. Interpretasi itu dua macam yaitu analisis dan sintesis (Kuntowijoyo, 2013 : 78).
Analisis
Analisis berarti menguraikan. Kadang sebuah sumber mengandung beberapa kemungkinan. Misalnya kita temukan daftar pengurus suatu ormas di kota. Dari kelompok sosialnya, kita baca disitu ada petani bertanah, pedagang, pegawai negeri, petani tak bertanah, orang swasta, guru, tukang, mandor. Kita dapat menyimpulkan bahwa ormas itu terbuka untuk semua orang. Jadi, bukan khusus untuk petani bertanah, tetapi untuk petani tak bertanah, pedagang, pegawai negeri, dan sebagainya. Setelah analisis itu kita temukan fakta (dari bahasa Inggris fact atau factum- bentuk tunggal, facts atau facta – bentuk jamak; bahasa Latin factus dari facere, yang berarti “mengerjakan”) bahwa pada tahun itu ormas tertentu bersifat terbuka, berdasarkan data yang kita peroleh dan kita cantumkan. Melalui analisis statistik, atau melalui persentase biasa, kita temukan fakta bahwa harga tanah naik. Dalam demografi kita dapat menemukan bahwa secara total terjadi integrasi (Kuntowijoyo, 2013 : 78-79).

Sintesis
Sintensis berari menyatukan. Setelah ada data tentang pertempuran, rapat-rapat, mobilisasi massa, penggantian pejabat, pembunuhan, orang-orang mengungsi, penurunan dan pengibaran bendera, kita temukan fakta bahwa telah terjadi revolusi. Jadi, revolusi adalah hasil interpretasi kita setelah data-data kita kelompokkan menjadi satu. “Mengelompokkan” data itu hanya mungkin kalau kita punya konsep. Revolusi adalah generalisasi konseptual yang kita peroleh dari pembacaan. Dalam interpretasi – baik analisis maupun sintesis orang bisa berbeda pendapat. Perbedaan interpretasi itu sah, meskipun datanya sama (Kuntowijoyo, 2013 : 79).
Kadang perbedaan antara analisis dan sintesis itu dapat kita lupakan, sekalipun dua hal itu penting untuk proses berpikir. Kita menyebutnya dengan interpretasi, atau analisis sejarah, tidak pernah kita dengar “sintesis sejarah”. Sama halnya, kita selalu mengatakan analisis statistik untuk analisis dan sintesis. Kadang antara data dan fakta hanya ada perbedaan bertingkat, jadi tidak perbedaan kategoris. Seperti dalam pekerjaan detektif, kalau yang dicari adalah kematian, data tentang pisau yang berdarah sudah sangat dekat dengan fakta. Kalau keingintahuan itu dilanjukan dengan pertanyaan : siapa pembunuhnya ? apa motifnya ? Jika yang dicari semua sudah tersedia, itulah fakta yang dapat disidangkan. Demikan juga bagi sejarawan, kalau yang dicari adanya rapat dan bukan revolusi, maka data berupa notulen rapat sudah sangat dekat dengan fakta (Kuntowijoyo, 2013 : 80).

PENULISAN
Dalam penulisan sejarah, aspek kronologi sangat penting. Dalam sejarah perubahan sosial, hal itu akan diurutkan kronologinya (Kuntowijoyo, 2013 : 80). Penyajian penelitian dalam bentuk tulisan mempunyai tiga bagian : (1) pengantar, (2) hasil penelitian, dan (3) simpulan.
Pengantar
Selain yang ditentukan oleh formalitas, dalam pengantar harus dikemukakan permasalahan latar belakang (berupa lintasan sejarah), historiografi dan pendapat kita tentang tulisan orang  lain, pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian, teori dan konsep yang dipakai, dan sumber-sumber sejarah. Jangan lupa, orang akan melihat apakah “yang dijanjikan” dalam pertanyaan itu telah dijawab (Kuntowijoyo, 2013 : 81).
Hasil Penelitian
Dalam bab-bab inilah ditunjukkan kebolehan penulis dalam melakukan penelitian dan penyajian. Profesionalisme penulis tampak dalam pertanggungjawaban. Tanggung jawab itu terletak dalam catatan dan lampiran. Setiap fakta yang ditulis harus disertai data yang mendukung (Kuntowijoyo, 2013 : 81).
Simpulan
Dalam simpulanlah kita mengemukakan generalization dari yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya dan sosial significance penelitian kita (Kuntowijoyo, 2013 : 81). Dalam generalisasi itu akan tampak apakah kita melanjutkan, menerima, memberi catatan atau menolak generalisasi yang sudah ada (Kuntowijoyo, 2013 : 82).
.

Penelitan sejarah masa lalu akan membuat orang lebih arif, sehingga kesalahan-kesalahan yang dahulu tidak terulang lagi (Kuntowijoyo, 2013 : 82).

Sumber
Kuntowijoyo. 2013. PENGANTAR ILMU SEJARAH. Yogyakarta : Penerbit Tiara Wacana